Todd Howard dari Bethesda juga mengamini. Ia menyebut cerita “Fallout” lebih cocok dikembangkan dalam bentuk serial.
“Awalnya banyak yang ingin bikin film,” ungkap Howard. “Tapi kami sadar dunia ‘Fallout’ terlalu besar untuk dikompres dalam format film.”
Craig Mazin, showrunner “The Last of Us,” memastikan serial itu tidak akan dilanjutkan sembarangan.
“Kita butuh setidaknya satu musim lagi untuk menyelesaikan cerita,” katanya. “Bisa jadi lebih. Tapi ceritanya yang akan menentukan panjangnya musim.”
Ia terbuka jika HBO ingin mengeksplorasi dunia “The Last of Us” lewat spin-off, namun menegaskan tidak akan ikut dalam proyek lanjutan.
“Ini adalah versi ‘The Last of Us’ milik saya. Saya ingin menuntaskan dua game yang sudah ada dan selesai di situ,” ucap Mazin.
Adaptasi game juga membuka peluang kolaborasi dua arah antara industri game dan film.
Charu Desodt dari BAFTA Games Committee melihat bahwa kekuatan setiap medium harus dioptimalkan.
“Game punya kekuatan dalam membangun empati dan keterlibatan pemain,” katanya. “Film menawarkan cerita yang padat dan terstruktur. Keduanya bisa saling melengkapi dalam satu ekosistem IP.”
Buktinya, sejak serial “Fallout” dirilis, jumlah pemain “Fallout 76” melonjak drastis.
“Efeknya luar biasa. Tidak hanya menarik fans lama, tapi juga menggaet pemain baru,” ujar Howard. “Kami jadi bisa menyiapkan Season 2 dengan pendekatan yang lebih matang.”
Mazin menyebut semua ini juga jadi pelajaran buat Hollywood, terutama soal manajemen ekspektasi dan waktu produksi.
“Lihat saja nanti bagaimana ‘Grand Theft Auto VI’ meledak saat rilis,” tuturnya. “Saya berani bilang itu bakal jadi media paling laris sepanjang sejarah — selain Alkitab.”
BAFTA Games Awards 2025 akan disiarkan langsung pada 8 April di kanal YouTube dan Twitch resmi BAFTA.
Sumber: Variety

