Teknologi

AI Ngangkut Jutaan Karya Tanpa Izin? Eropa Siap Tindak

Sementara itu, sutradara Prancis-Maroko Nabil Ayouch menyerukan regulasi ketat atas perusahaan AI.

“Beberapa orang bilang: ‘Bor, terus bor.’ Tapi saya bilang: ‘Atur, terus atur!’” ujar Ayouch lantang.

Menurutnya, setiap inovasi butuh kerangka regulasi agar tidak tumbang oleh dirinya sendiri.

Perusahaan AI, terutama dari AS, kini sedang ngotot agar tidak perlu mengungkap detail data pelatihan mereka.

Namun, mulai 2 Agustus nanti, Uni Eropa akan mulai menindak. Perusahaan mana pun yang melanggar—dari mana pun asalnya—bisa kena denda miliaran euro.

Ayouch mengingatkan, seperti halnya kemunculan bioskop, televisi, hingga streaming, semua inovasi bisa hidup berdampingan dengan seni jika ada regulasi yang adil.

Prancis kini jadi pusat perdebatan. Negara ini terkenal melindungi hak cipta, namun juga jadi hub AI terbesar di Eropa.

Presiden Emmanuel Macron telah mengumumkan investasi sektor swasta senilai €109 miliar ke sektor AI. Langkah ini disebut sebagai tandingan dari proyek AI senilai $500 miliar milik Trump di AS.

Macron menyebut pengembangan AI sebagai isu geopolitik. Menurutnya, Eropa harus punya model AI sendiri yang mencerminkan nilai-nilai mereka.

CEO Banijay France, Alexia Laroche-Joubert, baru-baru ini membagikan hasil perbandingan dari ChatGPT, Le Chat (MistralAI), dan Microsoft. Hasilnya? Jawaban ketiga AI tersebut sangat berbeda satu sama lain.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: berita seperti apa yang akan dikonsumsi publik jika mesin AI yang memilihkan?

Sumber: Variety

Laman: 1 2