GELUMPAI.ID — Anak-anak penyandang disabilitas di Korea semakin sering menjadi korban kekerasan, menurut data yang dirilis pada Jumat lalu. Pembunuhan dan bentuk kekerasan lainnya kini menjadi penyebab kematian keenam tertinggi bagi kelompok rentan ini, yang memicu kekhawatiran akan keselamatan mereka.
Jaksa pada hari Rabu lalu menuntut hukuman penjara delapan tahun untuk seorang wanita yang didakwa membunuh anak laki-lakinya yang memiliki disabilitas intelektual. Wanita tersebut membesarkan anaknya seorang diri setelah bercerai.
Pada November tahun lalu, ia membunuh anaknya di sebuah mobil yang terparkir di jalan pedesaan di Gimje, Provinsi Jeolla Utara.
Setelah kejadian tersebut, ia menyerahkan diri dan mengatakan, “Hidup terlalu berat. Saya ingin mengirim anak saya terlebih dahulu, lalu saya mengikuti.”
Keadaan tragis ini terus berlanjut, dengan data menunjukkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas lebih mungkin meninggal karena pembunuhan dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang tidak disabilitas.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan serta Pusat Rehabilitasi Nasional, 6,1 dari setiap 100.000 anak penyandang disabilitas usia 0 hingga 9 tahun meninggal karena kekerasan yang disengaja, termasuk pembunuhan, pada tahun 2022 — menjadikannya penyebab kematian keenam tertinggi bagi kelompok ini.
Selama tujuh tahun terakhir, rata-rata 5,9 dari setiap 100.000 anak penyandang disabilitas terbunuh setiap tahunnya — 8,0 pada tahun 2016, 7,5 pada 2017, 3,5 pada 2018, 10,0 pada 2019, 3,2 pada 2020, dan 3,1 pada 2021.
Sebagai perbandingan, hanya 0,8 dari setiap 100.000 anak dalam kelompok usia yang sama menjadi korban pembunuhan pada tahun 2022, yang menunjukkan bahwa anak penyandang disabilitas memiliki risiko kematian akibat pembunuhan hampir enam kali lipat lebih besar.
Meskipun statistik tidak menjelaskan secara rinci keadaan setiap kasus, banyak kejadian yang diyakini melibatkan orangtua atau wali, seperti kasus baru-baru ini di Gimje.
Laporan juga menunjukkan lonjakan tajam dalam penyalahgunaan terhadap anak-anak dan remaja penyandang disabilitas.

