GELUMPAI.ID — Angkatan Udara Israel mulai memecat tentara cadangan yang menandatangani petisi menentang kelanjutan perang di Gaza. Langkah ini memicu kontroversi di tengah masyarakat Israel.
Dikutip dari Middle East Monitor, seorang brigadir jenderal cadangan sudah menerima pemberhentian. Militer kini tengah melakukan pembicaraan individual dengan penandatangan petisi lainnya.
Militer mengklaim sekitar 60 penandatangan masih aktif berdinas, termasuk tujuh pilot. Namun penggagas petisi menyebut angka sebenarnya lebih tinggi, meski enggan merinci jumlah pastinya.
Sebelumnya, komandan Angkatan Udara mengancam akan memecat penandatangan yang tidak menarik dukungannya. Ancaman ini membuat 25 orang mencabut tanda tangan mereka.
Petisi yang ditandatangani sekitar 1.000 personel Angkatan Udara ini menyerukan penghentian perang segera. Mereka menyandera hanya bisa dibebaskan melalui kesepakatan damai, bukan operasi militer.
“Perang saat ini hanya melayani kepentingan politik pribadi, bukan kebutuhan keamanan,” tulis petisi tersebut. Mereka memperingatkan kelanjutan perang justru akan menewaskan lebih banyak sandera, tentara, dan warga sipil.
Seruan ini memicu gelombang protes serupa dari berbagai kesatuan militer Israel. Dalam beberapa hari terakhir, petisi serupa muncul dari dokter cadangan, mantan kombatan pasukan khusus, hingga unit siber.
Pecatannya dinilai sebagai upaya militer membungkam suara kritis internal. Langkah ini justru memperlihatkan perpecahan di tubuh militer Israel terkait strategi perang Gaza.
Masyarakat Israel semakin terpolarisasi menyikapi perang yang sudah berlangsung 19 bulan ini. Kelompok perdamaian semakin vokal menuntut pemerintahan Netanyahu mencari solusi diplomatik.
Pecatan massal ini berpotensi melemahkan kesiapan tempur Angkatan Udara Israel. Terutama karena melibatkan personel berpengalaman yang sulit digantikan.

