Untuk belanja subsidi dan kompensasi tercatat Rp 32,4 triliun.
Jumlah ini naik 7,6% dibandingkan akhir Maret 2024 yang sebesar Rp 30,1 triliun.
Meski demikian, angka itu masih lebih rendah dibanding 2023 yang mencapai Rp 37,5 triliun, 2022 Rp 38,5 triliun, dan 2021 Rp 21,4 triliun.
Subsidi energi dan non-energi juga meningkat.
Pemanfaatan BBM mencapai 2,90 juta kiloliter, naik 3,5% dibanding Maret 2024.
Untuk LPG 3 kg, sudah tersalurkan sebanyak 1,36 miliar kg, naik 2,9% dari tahun lalu.
Subsidi listrik menjangkau 41,9 juta pelanggan, meningkat 4,2% dari 40,2 juta pelanggan pada periode yang sama 2024.
Untuk subsidi pupuk, realisasinya mencapai 1,7 juta ton.
Angka ini naik signifikan 27,7% dibanding tahun lalu yang hanya 1,3 juta ton.
“Coba bayangkan kita di 2025 sampai dengan Maret sudah mengeluarkan subsidi pupuk 1,7 juta ton. Dan ini dilakukan secara tepat waktu dan tadi sesuai dengan instruksi Bapak Presiden simplifikasi yang menjelaskan bagaimana kita bisa men-secure panen yang baik. Karena pupuknya datang pada saat memang dia tanam. Tahun-tahun sebelumnya pupuknya datang, ada anggaranya, tapi datangnya terlambat dan hilang. Jadi ini matters a lot,” tegas Sri Mulyani.
Sumber: CNBC Indonesia

