GELUMPAI.ID — Pemerintahan Trump dilaporkan terbuka untuk menunda isu pelucutan senjata Hamas hingga gencatan senjata tercapai. Hal ini disampaikan sumber Mesir kepada media yang didukung Qatar, Al-Araby Al-Jadeed.
Sumber tersebut menyebut AS menilai deportasi ribuan teroris Palestina dari Gaza tidak realistis. Kekhawatiran negara tujuan dan jumlah besar—antara 3.000 hingga 5.000 orang—menjadi kendala.
Pihak AS menyampaikan sikap ini dalam pembicaraan baru-baru ini dengan mediator Mesir. Fokus pelucutan senjata Hamas bisa ditunda ke tahap implementasi berikutnya.
Deportasi pemimpin militer atau pejuang Hamas dari Gaza juga dianggap tidak layak. AS menegaskan hal ini dalam diskusi dengan Mesir.
Prioritas AS adalah memastikan pembebasan semua sandera Israel yang masih ditahan di Gaza. Mereka juga ingin memulihkan jenazah sandera yang telah meninggal.
Menurut laporan dari Jerusalem Post, intelijen yang dibagikan kepada AS menunjukkan risiko bagi sandera meningkat. Operasi militer Israel sejak pertengahan Maret memicu kekhawatiran ini.
Diskusi internal pemerintahan AS mengevaluasi efektivitas strategi militer Israel saat ini. Laporan intelijen menjadi dasar reassessment ini.
Mediator melaporkan optimisme yang meningkat untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas. Hamas disebut bersedia membebaskan semua sandera sekaligus.
Sumber Mesir juga mencatat fleksibilitas Hamas terkait pengaturan pasca-gencatan senjata. Ini mencakup soal senjata dan pergerakan personel.
Pembicaraan ini mencerminkan upaya diplomasi yang intensif di tengah konflik. AS berupaya menyeimbangkan tekanan militer dengan solusi negosiasi.

