GELUMPAI.ID – Nottingham Forest harus menelan pil pahit setelah gagal memanfaatkan peluang emas untuk menembus zona Liga Champions. Mereka ditahan imbang 2-2 oleh rivalnya, Leicester City, dalam laga yang diwarnai gol telat di City Ground pada Minggu (11/5) malam WIB.
Gelandang Argentina, Facundo Buonanotte, menjadi penyelamat bagi Leicester yang sudah dipastikan terdegradasi. Golnya pada menit ke-82 membuyarkan harapan Forest meraih tiga poin penuh. Sebelumnya, gol dari striker Chris Wood dan gelandang Morgan Gibbs-White sempat membalikkan keadaan bagi Forest, setelah Conor Coady membawa Leicester unggul di babak pertama melalui gol perdananya di Liga Primer untuk klub tersebut.
Seandainya menang, Forest seharusnya bisa memanfaatkan kekalahan Chelsea dari Newcastle United, rival mereka dalam perburuan tiket Liga Champions, yang terjadi lebih awal pada hari yang sama. Namun, hasil imbang ini membuat tim asuhan Nuno Espirito Santo tertahan di posisi ketujuh, terpaut satu poin dari Chelsea di peringkat kelima.
Pemilik Forest, Evangelos Marinakis, tampak hadir di City Ground. Ekspresi kekecewaannya terlihat jelas setelah peluit akhir berbunyi, bahkan ia turun ke lapangan untuk berbicara dengan manajer Nuno Espirito Santo. Setelah menelan tiga kekalahan dalam lima pertandingan terakhir, kemenangan atas Leicester adalah harga mati bagi Forest.
Laga ini menjadi krusial setelah Chelsea tumbang di St James’ Park. Kekalahan The Blues membuka lebar peluang Forest untuk mengendalikan nasib mereka sendiri dalam perebutan tiket Liga Champions. Sederhana saja, tiga kemenangan dari tiga pertandingan terakhir akan mengamankan tempat di kompetisi elit Eropa tersebut.
Sejak awal laga, Forest menunjukkan intensitas tinggi. Anthony Elanga menciptakan dua peluang emas bagi Chris Wood dalam empat menit pertama. Peluang-peluang tersebut adalah tipe situasi di mana Wood tampil sangat klinis di awal musim. Namun, keran gol pemain asal Selandia Baru itu mengering dalam beberapa pekan terakhir, dengan hanya satu gol dalam 10 penampilan sebelum laga ini.
Ketika Coady mencetak gol pembuka melalui sundulan, seolah-olah hari buruk akan menimpa Forest. Namun, respons mereka patut diacungi jempol. Mereka pantas memimpin setelah Wood mencetak gol melalui sundulan memanfaatkan umpan silang Ola Aina di babak kedua, menyusul gol penyeimbang dari Morgan Gibbs-White.
Sayangnya, Forest menunjukkan sedikit ketidakdewasaan dalam cara mereka kebobolan gol penyeimbang, dan juga dalam cara mereka bermain di menit-menit akhir untuk mencari gol kemenangan. Buonanotte melakukan solo run melewati lini belakang Forest dan menceploskan bola ke gawang. Padahal, masih ada 16 menit tersisa, termasuk delapan menit tambahan waktu.
Forest memang terus menyerang untuk mencari gol kemenangan, namun justru Leicester yang terlihat lebih berbahaya dan dua kali nyaris mencuri kemenangan.
Hasil ini sangat mengecewakan bagi Forest, yang kini harus berharap hasil pertandingan tim lain menguntungkan mereka jika ingin lolos ke Liga Champions. Di sisi lain, para suporter Leicester City tentu menyadari bahwa semangat juang tim mereka baru muncul terlambat di musim ini.
Target utama Leicester musim ini adalah bertahan di Liga Primer, dan mereka gagal. Namun, performa mereka menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Semangat itu terlihat saat degradasi mereka dipastikan dalam kekalahan tipis dari Liverpool pada pertengahan April, dan juga dalam hasil imbang melawan Brighton seminggu sebelumnya.
Kemenangan atas Southampton pekan lalu jelas memberikan kepercayaan diri bagi tim, dan mereka mampu mengatasi tekanan awal dari Forest untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja.
Gol pembuka Leicester tercipta berkat keberuntungan, ketika kiper Forest Matz Sels gagal mengantisipasi tendangan keras Bilal El Khannouss, sehingga bola muntah dapat disambar Coady. Gol penyeimbang Gibbs-White terjadi akibat kurangnya penjagaan di tiang dekat, sementara tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghentikan sundulan keras Wood.
Apa yang lebih menggembirakan bagi manajer Leicester, Ruud van Nistelrooy, adalah bagaimana timnya tetap berjuang hingga akhir laga. Gol penyeimbang Buonanotte menjadi secercah harapan di musim yang sulit bagi pemain asal Argentina tersebut. Tim tamu bahkan memiliki peluang untuk meraih tiga poin, menunjukkan bahwa mereka telah menjawab permintaan Van Nistelrooy untuk menampilkan semangat juang yang dibutuhkan untuk bangkit kembali dari Championship musim depan.

