GELUMPAI.ID — Di tengah tekanan terhadap Damaskus, Bashar al-Assad menggunakan jet pribadi untuk menyelundupkan uang tunai, barang berharga, dan dokumen penting yang memetakan jaringan bisnis yang membantunya mengendalikan kekayaan besar. Yasar Ibrahim, penasihat ekonomi utama Assad, mengorganisir penyewaan pesawat Embraer Legacy 600 untuk membawa aset-aset ini serta anggota keluarga dan staf istana ke Uni Emirat Arab dalam empat penerbangan, menurut sumber-sumber yang dikumpulkan oleh Reuters.
Ibrahim, yang mengelola kantor ekonomi presiden, berperan besar dalam membangun jaringan entitas yang digunakan Assad untuk mengontrol sebagian besar ekonomi Suriah. Jaringan ini sering kali berfungsi sebagai kedok bagi sang diktator, berdasarkan catatan sanksi AS dan pakar ekonomi Suriah. Setelah penindasan terhadap protes demokrasi pada 2011, negara-negara Barat mengenakan sanksi terhadap Assad dan kemudian Ibrahim.
Jet Embraer Legacy 600 melakukan empat penerbangan berturut-turut dalam 48 jam sebelum kejatuhan rezim Assad, menurut data pelacakan penerbangan yang diperiksa Reuters. Penerbangan terakhir pada 8 Desember membawa Assad ke Rusia, setelah pemberontak mencapai Damaskus. Sebelumnya, Ibrahim dan timnya mengirimkan uang tunai senilai $500.000 serta dokumen, laptop, dan hard drive yang berisi informasi penting tentang “The Group”—jaringan bisnis kompleks yang meliputi telekomunikasi, perbankan, properti, energi, dan kegiatan lainnya.
Pesawat yang terdaftar di Gambia dengan nomor ekor C5-SKY, pertama kali meninggalkan Damaskus pada 6 Desember dan mengangkut barang-barang bernilai tinggi, termasuk karya seni dan patung-patung kecil. Dua penerbangan berikutnya membawa lebih banyak uang tunai dan perangkat elektronik yang berisi data tentang struktur keuangan Assad. Penerbangan ketiga juga melibatkan kendaraan diplomatik UAE, yang menunjukkan adanya koordinasi antara kedua negara.
Pada 8 Desember, saat Assad melarikan diri ke Rusia, pesawat tersebut mendarat di pangkalan Hmeimim yang dikelola Rusia di Latakia, Suriah, setelah penerbangan singkat dari Abu Dhabi. Di dalam pesawat itu terdapat Ahmed Khalil Khalil, seorang rekan dekat Ibrahim, yang membawa uang tunai $500.000. Khalil mengumpulkan uang tersebut dari Bank Internasional Suriah beberapa hari sebelumnya.

