GELUMPAI.ID — Di era digital seperti sekarang, media sosial jadi wadah utama untuk berbagi momen spesial. Mulai dari liburan, pencapaian karier, sampai kehidupan cinta yang terlihat manis.
Tapi, jangan buru-buru percaya.
Banyak dari kita hanya melihat tampilan luar yang sudah terkurasi sedemikian rupa. Di balik feed yang penuh senyuman, mungkin saja ada seseorang yang sedang merasa hampa.
Menurut Hack Spirit, semakin banyak orang yang diam-diam berjuang secara emosional, meski tampak bahagia di dunia maya.
Salah satu tanda yang mencolok adalah penggunaan filter berlebihan. Foto terlihat cerah, wajah glowing, semuanya tampak sempurna. Padahal, realita di balik layar bisa jauh berbeda—kesepian, stres, bahkan depresi.
Ada pula yang gencar mencari validasi dari like dan komentar. Semakin tinggi interaksi, makin besar rasa dihargai. Tapi sayangnya, hal itu hanya memuaskan di permukaan.
Media sosial juga jadi tempat pelarian. Saat masalah menumpuk, sebagian orang justru makin aktif online. Postingan bahagia bisa jadi bentuk pengalihan dari hubungan yang renggang atau tekanan finansial.
Tekanan sosial membuat mereka takut dinilai gagal. Tampil lemah atau jujur soal kesedihan terasa tabu. Akhirnya, mereka memilih hanya menunjukkan sisi cerahnya saja.
Ada juga yang kehidupannya jauh dari apa yang dipamerkan. Liburan mewah mungkin hasil kredit bertahun-tahun. Hubungan harmonis di Instagram bisa jadi penuh pertengkaran di kenyataan.
Orang yang benar-benar bahagia biasanya tidak merasa perlu membuktikan apapun. Mereka menikmati momen secara utuh tanpa perlu validasi publik.
Yang penting diingat: tidak semua yang terlihat bahagia di layar, benar-benar bahagia di kenyataan.
Jadi, sebelum merasa hidup orang lain lebih sempurna, ingat bahwa semua orang punya perjuangannya masing-masing. Fokus pada diri sendiri jauh lebih sehat daripada terus membandingkan dengan dunia yang sudah melalui banyak filter.
Sumber: Beautynesia

