Bola & Sports
Beranda » Bola & Sports » Bayang-Bayang PHK Hantui Staf Manchester United Jelang Final Europa League

Bayang-Bayang PHK Hantui Staf Manchester United Jelang Final Europa League

Kekhawatiran melanda para karyawan Manchester United menjelang final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur pekan depan. (cr/x.com)

GELUMPAI.ID – Kekhawatiran melanda para karyawan Manchester United menjelang final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur pekan depan. Mereka cemas akan adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan jika The Red Devils gagal meraih trofi dan kehilangan potensi pendapatan dari Liga Champions.

Kekalahan di Bilbao tidak hanya akan menjadi pukulan telak di lapangan, tetapi juga akan membuat klub kehilangan pemasukan sekitar 100 juta poundsterling dari Liga Champions. Situasi ini memperburuk kecemasan para karyawan, mengingat ratusan rekan kerja mereka telah menjadi korban efisiensi biaya yang diterapkan oleh pemilik minoritas klub, Sir Jim Ratcliffe.

Dilansir dari The Sun, sebanyak 250 pekerjaan telah dipangkas pada musim panas lalu, dan 200 posisi lainnya juga terancam. Performa buruk tim di lapangan, yang kini terpuruk di posisi ke-16 Liga Primer Inggris, semakin menambah ketidakpastian. Final Liga Europa menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan musim ini, baik dari segi trofi maupun finansial.

Namun, bagi para karyawan, bayang-bayang PHK menghantui. Mereka telah menyaksikan rekan-rekan mereka kehilangan pekerjaan dan berbagai fasilitas yang sebelumnya mereka nikmati. Kekalahan di final dikhawatirkan akan memicu INEOS, perusahaan yang dipimpin Ratcliffe, untuk mencari cara lain dalam mengurangi beban keuangan klub.

Seorang sumber internal klub mengungkapkan kepada The Sun, “Orang-orang bilang lingkungan kerja di sini sangat buruk. Semua orang lesu dan merasa terancam. Tidak ada antusiasme. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika mereka tidak mengalahkan Spurs.”

Ketegasan Ratcliffe dalam hal pengeluaran juga tercermin dalam keputusannya untuk tidak memberikan tiket final Liga Europa secara gratis kepada para karyawan. Kebijakan ini sangat kontras dengan langkah yang diambil oleh Tottenham Hotspur.

Manchester United memilih untuk mengadakan ballot dengan jumlah tiket terbatas bagi staf mereka. Sebagian besar karyawan diundang untuk menyaksikan pertandingan melalui layar lebar di dekat Manchester, dengan tawaran satu pendamping. Staf akan mendapatkan dua minuman gratis, namun tamu mereka harus membayar sendiri.

Ratcliffe sendiri membela keputusan-keputusan efisiensi yang telah diambilnya, termasuk kenaikan harga tiket dan penghapusan biaya konsesi. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan, “Perubahan membutuhkan beberapa keputusan yang tidak populer. Saya pikir saya harus menerima bahwa saya akan menjadi tidak populer. Saya tidak tahu berapa lama saya akan tidak populer, mungkin untuk waktu yang lama,” ungkapnya.

“Tetapi saya pikir layak untuk menjadi tidak populer demi memperjuangkan perubahan yang diperlukan untuk membawa Manchester United kembali ke tempat seharusnya, dan semoga sikap akan sedikit berubah jika kita keluar dari sisi lain dengan hasil yang sukses,” pungkasnya.