GELUMPAI.ID – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, publik di sejumlah daerah dihebohkan dengan berkibarnya bendera bajak laut dari serial anime One Piece.
Fenomena ini pun jadi bahan diskusi hangat, mulai dari pujian karena dinilai kreatif, hingga kekhawatiran soal lunturnya semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni, menanggapi fenomena tersebut. ,
Menurutnya, penggunaan simbol budaya pop seperti bendera One Piece, tidak lantas bisa dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap negara.
“Budaya populer seperti anime dan manga telah menjadi bagian dari ruang ekspresi saat ini. Simbol seperti bendera One Piece hadir bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, tapi sebagai representasi dari nilai-nilai kebebasan, persahabatan, dan keberanian yang mereka kagumi,” ujar Ayatullah, pada Jumat 1 Agustus 2025, seperti dilansir dari BANPOS.
Ia menilai, kehadiran simbol budaya pop menjelang Hari Kemerdekaan bukanlah bentuk penolakan terhadap identitas nasional, melainkan refleksi atas perlunya pembaruan cara menyampaikan nilai-nilai kebangsaan.
“Mungkin bukan masyarakat yang salah memilih simbol. Mungkin kita yang belum cukup menghadirkan makna Merah Putih dengan cara yang menyentuh kehidupan mereka sehari-hari,” katanya.
Menurutnya, inilah momentum yang tepat untuk memperkuat pendekatan kebudayaan yang kreatif dan lebih dekat dengan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda.
MenurutN Ayatullah, nasionalisme tidak harus dibangun melalui cara-cara kaku atau seremonial.
“Mencintai budaya populer itu sah. Bahkan bisa menjadi jembatan dialog budaya. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa nilai-nilai nasional juga hadir di sana, agar Merah Putih tetap hidup bukan hanya di tiang bendera, tapi juga di hati masyarakat,” jelasnya.
Dewan Kebudayaan Kota Cilegon pun mengajak semua pihak mulai dari institusi pendidikan, komunitas, hingga media untuk bersama-sama menciptakan ekosistem kebudayaan yang adaptif dan inspiratif, tanpa melepaskan akar kebangsaan.

