Entertainment
Beranda » Entertainment » Bikin Malu Kpop! NewJeans Jadi Sorotan Media AS, Isu Hak Pekerja Picu Perdebatan Panas

Bikin Malu Kpop! NewJeans Jadi Sorotan Media AS, Isu Hak Pekerja Picu Perdebatan Panas

GELUMPAI.ID – Girl group rookie fenomenal NewJeans kembali menjadi topik hangat — kali ini bukan karena prestasi musik mereka, tapi karena sebuah kontroversi yang menyentuh isu sensitif: hak pekerja dalam industri KPop.

Semuanya bermula dari laporan salah satu media besar Amerika Serikat yang menyoroti bagaimana Kementerian Tenaga Kerja (KEMNAKER) Korea Selatan memutuskan untuk tidak mengakui Hanni, salah satu member NewJeans, sebagai seorang pekerja. Laporan ini secara terang-terangan menyebut industri KPop sebagai sesuatu yang eksploitatif, menyulut reaksi keras dari warganet Korea.

Unggahan dengan judul tajam “NewJeans Menyebabkan Malu KPop Secara Global” di forum daring populer Korea, Pann, menjadi viral dalam waktu singkat. Lebih dari 58.000 pengguna melihat unggahan ini, dengan ratusan komentar bermunculan — mayoritas bernada kecewa dan khawatir akan reputasi KPop di mata dunia.

“Sebuah media berita Amerika yang sangat terkenal menulis tentang NewJeans, menggambarkan KPop sebagai sesuatu yang eksploitatif dan mengenang kejadian-kejadian yang menyakitkan. Ini sungguh memalukan,” tulis sang pengunggah.

Tak sedikit netizen yang langsung mengkritik NewJeans dan agensinya, ADOR, anak perusahaan dari raksasa hiburan HYBE Corporation. Komentar seperti:

“Apa yang pernah dilakukan KPop kepadamu, NewJeans?”

“Mereka adalah kelompok yang seharusnya tidak ada sejak awal.”

“Hal seperti ini yang terungkap ke publik tidak hanya akan merugikan idol HYBE, tetapi juga artis dari agensi lain,”  dikutip dari KpopChart.net.

…mencerminkan betapa seriusnya kekhawatiran publik atas dampak citra KPop secara global.

Namun, apa sebenarnya yang membuat Hanni tidak diakui sebagai pekerja?

Menurut penjelasan resmi dari KEMNAKER, hubungan antara Hanni dan ADOR tidak memenuhi definisi formal antara karyawan dan perusahaan berdasarkan Undang-Undang Standar Perburuhan Korea Selatan. Kontrak yang dimiliki Hanni diklasifikasikan sebagai kontrak manajemen, bukan kontrak kerja konvensional. Hubungan tersebut dinilai lebih bersifat kemitraan — terutama karena struktur pembagian keuntungan yang menjadi dasar penghasilan Hanni. Jadi, alih-alih menerima gaji tetap seperti karyawan, Hanni mendapatkan persentase dari pendapatan yang dihasilkan NewJeans.

Dengan kata lain, meskipun ia adalah figur publik yang bekerja keras di depan kamera, secara hukum ia tidak dikategorikan sebagai “pekerja”.

Kontroversi ini tentu memicu diskusi lebih luas tentang perlakuan terhadap idola KPop, terutama di tengah perhatian dunia yang semakin besar terhadap industri hiburan Korea. Banyak yang menilai bahwa transparansi kontrak dan perlindungan hak-hak artis menjadi sesuatu yang harus dibenahi, bukan hanya demi citra KPop, tapi juga demi keberlangsungan dan keadilan dalam industri ini.

Isu ini pun terus memanas dan menjadi trending topic di berbagai platform media sosial dan komunitas daring di Korea. Dunia kini memandang KPop bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cerminan nilai dan praktik sosial — dan saat masalah seperti ini muncul ke permukaan, publik pun tak tinggal diam.