Meski Marc Marquez punya rekor bagus di Qatar, Alex Marquez disebut-sebut punya peluang kuat untuk menang kali ini.
Pecco Bagnaia jadi pembalap lain yang disorot. Qatar disebut sebagai titik balik kampanyenya musim ini.
Sebelum GP Amerika, performa Bagnaia tenggelam oleh dua Marquez bersaudara. Tapi peningkatan signifikan pada motor GP25, khususnya saat pengereman, membuatnya kembali ke performa terbaik.
Kemenangan di COTA menipiskan jarak ke klasemen. Meski catatannya di Qatar bagus, hype berlebih dari Ducati tetap jadi tanda tanya.
Bagnaia punya satu kemenangan di Qatar, plus podium di 2021 dan 2023. Tapi masih banyak yang meragukan apakah ia benar-benar akan mendominasi.
Satu nama lain yang tak boleh dilupakan: Fabio Di Giannantonio. Ia mengalahkan Bagnaia tahun lalu di Qatar dan kini menunggangi motor GP25 yang sama.
Meski absen di pramusim karena cedera, penampilan Diggia tak mengecewakan. Di COTA, ia finis ketiga setelah memanfaatkan insiden Marc Marquez.
Jaraknya dari pemenang hanya 3,5 detik dan unggul tujuh detik dari rider lain. Cepatnya adaptasi Di Giannantonio bisa jadi ancaman bagi trio Ducati lainnya.
Qatar jadi tempat spesial baginya. Tahun lalu ia menang untuk pertama kalinya di sini. Bahkan dengan motor GP23 yang underperform pun, ia bisa finis ketujuh.
Kini dengan motor yang kompetitif, Di Giannantonio bisa jadi kuda hitam di Lusail.
Di luar sirkuit, aturan start juga kembali jadi sorotan usai kekacauan di COTA. Race Director, Mike Webb, menyebut aturan akan diperjelas dan disederhanakan.
Kemungkinan aturan baru diumumkan sebelum sesi latihan dimulai. Meski cuaca di Qatar lebih stabil, insiden COTA membuka mata banyak pembalap.
Strategi Marc Marquez yang memanfaatkan celah aturan di COTA bisa jadi pelajaran. Pembalap lain dipastikan akan lebih jeli memainkan regulasi jika situasi serupa terjadi lagi.
Sumber: CRASH

