GELUMPAI.ID – Pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, berhasil meruntuhkan tembok ketakutan masyarakat akan kehadiran Artificial Intelligence (AI).
Karena, ketakutan bahwa AI yang digadang-gadang bakal menggeser lapangan kerja masyarakat, ternyata masih jauh dari angan, jika mengacu pada pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal.
Dalam video yang beredar, Cucun menyampaikan bahwa dirinya merupakan pemegang ‘palu kuasa’, yang bisa saja dengan palu tersebut membuat para ahli gizi kehilangan pekerjaan, minimal pada proyek Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara Undang-undang, pembuat kebijakan itu saya,” katanya.
“Tidak perlu ahli gizi (MBG). Selesai kalian. Cocok? Jangan bicara arogans dengan saya. Semua usaha di Republik ini, saya tinggal ketok dengan palu, selesai. Nggak boleh. Saya tuh nggak mau dengar ada orang sombong, karena saya ini ahli gizi,” ucapnya lagi.
Bahkan, dalam cuplikan video itu, Cucun menyampaikan bahwa para ahli gizi bisa digantikan dengan anak-anak Fresh Graduate SMA, yang dilatih selama tiga bulan untuk sertifikasi keahlian gizi.
Jamal, seorang mahasiswa Universitas Pamulang kampus Serang, mengaku tercerahkan dengan pernyataan dari politisi PKB itu.
Menurutnya, pernyataan dari Cucun sukses membuktikan bahwa dalam waktu dekat, manusia akan digantikan sebagai tenaga kerja oleh robot dan AI.
“Ya kan ini bukti jelas kalau robot dan AI itu belum saatnya membuat manusia kehilangan pekerjaan. Manusia masih dibutuhkan tenaganya untuk bekerja, minimal untuk menyukseskan proyek pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, pernyataan Cucun juga menjadi bukti bahwa masyarakat telah salah mengarahkan rasa takutnya pada robot dan AI, termasuk menyalahkan keduanya atas hilangnya banyak tenaga kerja.
“Toh yang bisa menghilangkan suatu kaum dari kesempatan bekerja bukan AI dan robot, melainkan pejabat yang memiliki kewenangan kan. Kalau kasusnya pak Cucun, mereka yang punya palu sidang,” ucapnya.
Cucun kini sudah mengklarifikasi dan meminta maaf atas statemen tersebut. Namun sayangnya menurut Jamal, robot dan AI belum diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi ketakutan yang disebar atas nama kaum mereka.

