Mempertimbangkan Pilihan Pendidikan yang Lebih Terjangkau
Devi Ain, seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun, juga merasakan dampak dari kenaikan PPN terhadap pengeluaran untuk pendidikan anak-anaknya. “Pengeluaran untuk pendidikan sudah diatur, paling diprioritaskanlah. Tapi kalau tiba-tiba biaya melonjak karena PPN naik, ya mau tidak mau harus pikir-pikir lagi,” ujar Devi.
Jika biaya pendidikan semakin tinggi, Devi mempertimbangkan untuk memindahkan anaknya ke sekolah negeri atau mencari sekolah swasta dengan biaya lebih terjangkau. “Kalau ujung-ujungnya sampai harus jual motor atau kendaraan buat bayar sekolah, lebih baik tidak usah dipaksakan. Mungkin pindah ke sekolah negeri bisa menjadi opsi, atau ke sekolah swasta yang lebih terjangkau,” kata Devi.
Dampak Sosial dari Peningkatan Biaya Pendidikan
Kenaikan PPN 12 persen bukan hanya memengaruhi biaya pendidikan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan membeludaknya jumlah siswa di sekolah negeri. Sebagian orangtua, seperti Widya, Inggrid, dan Devi, merasa kesulitan untuk menyeimbangkan antara memberikan pendidikan terbaik bagi anak dan menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat.
Dengan daya tampung sekolah negeri yang terbatas, fenomena pemindahan anak dari sekolah swasta ke sekolah negeri bisa menyebabkan masalah baru dalam dunia pendidikan, yaitu menurunnya kualitas pembelajaran akibat banyaknya siswa yang diterima.
Bagi banyak orangtua di Jabodetabek, kebijakan kenaikan PPN 12 persen yang berlaku pada awal 2025 bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah sebuah tantangan nyata yang mempengaruhi rencana pendidikan mereka. Dengan meningkatnya biaya pendidikan, banyak keluarga kini harus memutar otak untuk mencari solusi agar anak-anak mereka tetap mendapatkan pendidikan yang baik tanpa terbebani oleh biaya yang semakin tinggi.

