GELUMPAI.ID — Puluhan dapur umum di Gaza terpaksa tutup kemarin karena kehabisan pasokan. Penutupan ini memutus akses makanan bagi ratusan ribu warga.
World Central Kitchen (WCK) menyatakan kehabisan bahan untuk menyediakan makanan gratis. Israel juga menghalangi masuknya bantuan ke Gaza.
Sebanyak 170 dapur umum di Gaza berhenti beroperasi. Blokade Israel menyebabkan stok makanan menipis.
“Semua orang di Gaza saat ini kelaparan. Dunia harus segera bertindak untuk menyelamatkan warga di sini,” kata Amjad Al-Shawa, direktur PNGO Gaza!
Penutupan dapur umum mengurangi 400.000 hingga 500.000 porsi makanan gratis per hari. Ini berdampak pada 2.3 juta penduduk Gaza.
Mengutip laman Middle East Monitor, dapur yang tersisa juga akan tutup dalam waktu dekat. Krisis kelaparan semakin parah.
Tepung yang tersedia di pasar Gaza terkontaminasi. Warga terpaksa menyaringnya berulang kali sebelum digunakan.
“Tepungnya penuh kutu dan pasir. Kami menyaringnya tiga sampai empat kali agar bisa dipakai,” ujar Mohammad Abu Ayesh, ayah sembilan anak dari Gaza utara.
“Kami terpaksa memakannya meski baunya tak tertahankan. Hewan pun tak akan memakannya, tapi kami tak punya pilihan,” tambahnya!
Serangan militer Israel menewaskan 105 orang dalam 24 jam terakhir. Total korban sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 52.700 jiwa.
Israel memberlakukan blokade total pada 2 Maret. Larangan masuk makanan, air, obat, dan bahan bakar memperburuk krisis kemanusiaan.
Di Khan Yunis, Huda Abu Diyya mendapat makanan terakhir dari dapur umum. “Tanpa dapur umum, kami akan mati kelaparan. Apa yang harus saya beri makan anak-anak besok?” katanya?
“Harga semua barang melonjak. Situasinya sangat buruk, kami akan mati kelaparan,” tambahnya!
Sebagian besar warga Gaza hanya mendapat satu setengah porsi makanan per hari. Kini, jumlah itu turun menjadi satu porsi tanpa gizi seimbang.
“Saya khawatir kematian akan terjadi pada lansia, anak-anak, ibu hamil, dan orang sakit,” ujar Al-Shawa.

