News
Beranda » News » Delegasi Rusia Dinilai Rendah, Upaya Perdamaian Ukraina-Rusia di Turki Diragukan

Delegasi Rusia Dinilai Rendah, Upaya Perdamaian Ukraina-Rusia di Turki Diragukan

GELUMPAI.ID — Pembicaraan perdamaian antara Ukraina dan Rusia di Istanbul, Turki, menuai keraguan. Delegasi Rusia yang dipimpin asisten presiden Vladimir Medinsky dianggap tidak cukup senior.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengkritik keras delegasi Rusia. “Tidak ada waktu pasti, agenda, atau delegasi tingkat tinggi, ini bentuk ketidakhormatan terhadap Erdogan dan Trump,” ujarnya.

Zelensky menantang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertemu langsung. Ia menyebut negosiasi tak akan maju tanpa kehadiran Putin.

Sementara itu, Medinsky membela delegasinya. “Tim kami memiliki semua kompetensi yang diperlukan,” katanya.

Pembicaraan ini merupakan negosiasi langsung pertama sejak 2022. Rusia ingin melanjutkan syarat lama, termasuk netralitas Ukraina dan pembatasan militer.

Ukraina menolak syarat tersebut. Mereka menilainya sebagai bentuk penyerahan diri.

Menteri Pertahanan Ukraina Rustem Umerov memimpin delegasi Kyiv. Timnya termasuk wakil kepala intelijen dan kementerian luar negeri.

Delegasi Rusia juga mencakup wakil menteri pertahanan dan kepala intelijen militer. Namun, absennya Putin menjadi sorotan.

Menurut laporan dari BBC, Donald Trump menegaskan kemajuan hanya mungkin jika ia bertemu Putin. “Tak ada yang akan terjadi sampai saya dan Putin bertemu,” ucapnya di Air Force One.

Trump mengaku siap menghadiri pembicaraan di Turki jika diperlukan. Namun, ia kemungkinan akan kembali ke Washington.

Pertemuan di Istanbul awalnya dijadwalkan Kamis. Hingga kini, waktu pasti belum ditentukan.

Putin mengusulkan pembicaraan setelah desakan Eropa dan Ukraina untuk gencatan senjata 30 hari. Namun, Kremlin memastikan Putin tak akan hadir.

Zelensky menuding Rusia tidak serius. Ia menyebut delegasi rendah sebagai bentuk penghinaan.

Medinsky menegaskan tujuan Rusia adalah perdamaian jangka panjang. “Kami ingin mengatasi akar konflik,” tuturnya.

Konflik di Ukraina terus berlanjut. Rusia mengklaim menguasai dua desa di Donetsk pada Kamis.

Moskow kini mengontrol sekitar 20% wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi pada 2014. Tekanan internasional terus meningkat agar Rusia menghentikan agresi.