GELUMPAI.ID – Dikritik soal penggunaan tongkat komando saat turun ke lapangan, Walikota Serang, Budi Rustandi, janji tidak memakainya lagi.
Walau menurutnya boleh memakai tongkat komando saat ke masyarakat sipil dan tidak ada sanksi, namun apabila dirinya terlihat tidak elok ketika menggunakan tongkat tersebut, maka ia menegaskan tidak lagi memakainya.
“Ya ngga apa-apa nanti saya nggak pake, simpel aja. Kan masyarakat sipil juga boleh, nggak ada sanksinya,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa, 6 Mei 2025.
Selanjutnya, Budi pun menunjukkan sebuah video yang memuat bantahan terkait dengan kekhawatiran akan munculnya otoritarianisme di Kota Serang. Dalam video tersebut, berisikan narasi bahwa tongkat komando ini melambangkan struktur, bukan ego.
Sebelumnya diberitakan bahwa Akademisi FISIP Uniba, Malik Fatoni, menyoroti penampilan Budi saat turun ke lapangan menemui warga Kota Serang pada Senin 5 Mei 2025. Sebab, Budi terlihat membawa tongkat komando, yang biasanya dibawa oleh komandan-komandan pada institusi polisi dan militer.
Menurutnya, Kepala Daerah yang merupakan hasil dari pemilihan demokratis oleh masyarakat sipil, tidak cocok membawa simbol-simbol militeristik seperti itu.
“Dalam tradisi militer, tongkat komando merupakan simbol otoritas, kepemimpinan, dan tanggung jawab tertinggi dalam struktur hierarkis, yang menggambarkan mekanisme kerja dan hubungan komunikasi dalam sistem kebijakan yang bersifat instruktif,” ujarnya.
Malik mengatakan, penggunaan simbol militer oleh kalangan sipil, memang sudah sering dilakukan. Sebagai contoh, beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) juga menggunakan tongkat komando untuk para pimpinannya.
“Hal ini yang terkadang menimbulkan polemik. Fenomena ini menuntut telaah akademik dan analisis secara mendalam, dan perlu memaknainya secara komprehensif. Karena dikhawatirkan, akan membawa Pemkot Serang menjadi lembaga otoritarianisme” ucapnya.

