GELUMPAI.ID – Status sebagai “cadangan” di keluarga kerajaan terus menghantui Pangeran Harry, bahkan setelah lima tahun meninggalkan tugas kerajaan. Gelar “spare”—yang membedakan perannya dari sang pewaris, Pangeran William—seolah masih mendominasi hidupnya.
Menurut pakar kerajaan Richard Fitzwilliams, Harry terobsesi dengan label ini. “Harry percaya institusi kerajaan telah mengincarnya dan Meghan. Ia merasa istana membocorkan informasi untuk menjatuhkan mereka,” katanya kepada Fox News Digital.
Ingrid Seward, editor Majesty Magazine, menambahkan bahwa identitas sebagai “spare” benar-benar menguasai hidup Harry. “Dia memilih menjadi korban dan membalas dendam atas perlakuan yang menurutnya tidak adil, baik pada keluarganya, media, maupun pengadilan,” ujarnya kepada Daily Mail.

Buku biografi terbaru Tom Quinn, “Yes Ma’am: The Secret Life of Royal Servants”, mengungkapkan bahwa para penasihat kerajaan dulu pernah meyakinkan Harry bahwa nasibnya lebih bebas dibanding William yang harus menanggung beban takhta. Namun, Harry tak pernah melihatnya demikian.
Sejarawan Robert Lacey mengungkapkan bahwa rasa tidak bahagia ini terus berkembang sejak kecil, apalagi setelah William dan Kate Middleton semakin dipersiapkan untuk memimpin kerajaan. “Sistem kerajaan bisa sangat kejam, terutama bagi mereka yang bukan pewaris utama,” kata Lacey.
Pakar kerajaan Christopher Andersen berpendapat bahwa perasaan ini tertanam sejak kecil. “Harry selalu di bayang-bayang William, baik di dalam maupun luar istana. Sejak kecil ia merasa diabaikan,” jelas Andersen.
Ibunya, Putri Diana, sempat berusaha menyeimbangkan perlakuan kepada kedua putranya. Namun, tekanan dari keluarga kerajaan tetap membentuk perasaan terasing dalam diri Harry. Salah satu contohnya, menurut Andersen, adalah ketika Harry harus duduk terpisah saat acara minum teh bersama Ratu Elizabeth II, sementara William diperlakukan istimewa.
Sejak meninggalkan kerajaan, Harry berusaha menemukan jati diri di luar monarki. Namun, menurut pakar Hilary Fordwich, ia justru semakin memposisikan diri sebagai korban. “Alih-alih merangkul perannya sebagai anggota keluarga kerajaan dengan kebebasan lebih, ia malah memilih berfokus pada luka lamanya,” katanya.

