GELUMPAI.ID — Manajemen Ducati menghadapi situasi rumit mengelola duo pembalap pabrikan, Marc Marquez dan Pecco Bagnaia. Persaingan keduanya memanas jelang seri MotoGP berikutnya.
Marquez memimpin klasemen setelah tampil dominan di Le Mans. Ia menang di sprint race dan finis kedua di grand prix.
Pembalap baru Ducati ini unggul 22 poin atas Alex Marquez. Posisinya bisa lebih baik andai tak crash di Texas dan Jerez.
Marquez cepat beradaptasi dengan GP25. Sebaliknya, Bagnaia kesulitan menyesuaikan diri dengan motor musim ini.
Bagnaia finis ke-16 di Le Mans tanpa poin. Ia kembali mengeluh soal feeling front-end motor.
Menurut laporan dari CRASH, Bagnaia kehilangan kepercayaan diri. “Pecco sepertinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri,” kata Lewis Duncan di Crash MotoGP Podcast.
Bagnaia tertinggal 51 poin dari Marquez. Ini menjadi grand prix tanpa poin pertamanya di 2025.
Ducati berupaya memperbaiki motor Bagnaia. Namun, tim pernah memintanya berkendara mengatasi masalah sebagai juara dunia.
“Pecco akhirnya sadar setelah tes Jerez bahwa masalah ada pada dirinya,” ujar Duncan penuh analisis. Ia menyebut Bagnaia seperti mengatur ulang kejuaraan.
Marquez terus menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa. Di usia 32, ia belajar layaknya pembalap baru.
“Ini menunjukkan kualitas pembalap sejati,” kata Duncan antusias. “Marc memperlakukan kejuaraan ini seperti yang pertamanya.”
Bagnaia harus segera bangkit. Jika tidak, peluang juara dunia makin menipis.
Manajemen Ducati perlu menangani situasi ini dengan hati-hati. Fokus Bagnaia harus dipulihkan dalam beberapa seri ke depan.
Persaingan internal ini bisa mengubah dinamika tim. Marquez kini menjadi ancaman serius bagi Bagnaia.

