“Kekuatan dan kelemahan mereka sangat pas dengan kelemahan dan kekuatan kami, jadi ini koneksi yang kuat.”
Toyota dan Haas sama-sama sepakat bahwa kerja sama ini bersifat jangka panjang.
Kaji menyebut kolaborasi ini sebagai “baru permulaan”.
“Para pembalap dan insinyur kami sangat termotivasi karena mereka bisa belajar dari mobil kelas atas,” kata Kaji.
“Jadi hal pertama yang kami dapat adalah motivasi orang-orang, dan untuk teknologi, itu akan berkembang mulai sekarang.”
Toyota pernah turun langsung sebagai tim F1 pada 2002, namun mundur sebelum dekade berakhir karena krisis keuangan.
Kala itu, mereka gagal mencetak satu pun kemenangan meski menggelontorkan anggaran jumbo.
Kini, Toyota tampaknya memilih jalur yang lebih cermat—bersekutu dalam diam, dan menanti waktu yang tepat.
Sumber: CRASH

