GELUMPAI.ID — Marsai Martin tak lagi sekadar dikenal sebagai bintang cilik. Kini, di usia 20 tahun, ia menjelma menjadi mogul muda yang punya kendali penuh atas langkah kariernya.
Perjalanan Marsai dimulai sejak usia 9 tahun, saat ia berani mempitching film komedi “Little” ke Universal. Film itu sukses dan membuatnya tercatat sebagai produser termuda yang meneken first-look deal dengan studio besar saat masih berusia 14 tahun.
“Aku masih kecil waktu itu. Aku bahkan nggak tahu benar-benar sedang masuk ke dunia seperti apa. Tapi aku nggak merasa gugup sama sekali,” kenangnya sambil tersenyum.
Kepercayaan diri itu jadi kunci kesuksesan awal Marsai di dunia hiburan. Namun, setelah melewati berbagai tantangan, ia mulai merasakan kerasnya industri ini.
Film “Fantasy Football” di Paramount+ yang ia bintangi dan produseri pada 2022 memang mencuri perhatian. Tapi di balik itu, Marsai mengaku patah hati saat serial “Saturdays” di Disney Channel yang juga ia produseri, dibatalkan setelah satu musim.
“Sekarang aku sudah melihat sendiri, dan mengerti bagaimana pengalaman perempuan kulit hitam sebelum aku. Rintangan yang mereka hadapi sangat nyata,” ucapnya serius.
Meski kecewa, ia tetap bangga bisa menghadirkan tiga aktris muda kulit hitam sebagai tokoh utama dalam “Saturdays”. Menurutnya, itu adalah bentuk perlawanan kecil terhadap sistem yang belum sepenuhnya inklusif.
Marsai tidak ingin berhenti. Ia merasa justru tertantang untuk menciptakan sesuatu yang dulu tak diperuntukkan bagi orang kulit hitam.
“Aku sadar banget, industri ini memang nggak dibangun buat [orang kulit hitam], tapi terus berkarya dan menciptakan hal baru yang dulunya bukan buat kita — itu jadi tantangan yang aku suka!”
Aktor yang memulai debut besar di serial “Black-ish” ini sempat bingung setelah acara tersebut tamat. Ia mengaku sempat ingin menerima semua tawaran.
“Aku pengin bilang iya ke semua proyek, karena aku nggak tahu selanjutnya bakal kayak gimana. Apalagi aktor, kita nggak pernah tahu kapan dapat kerjaan lagi,” ujarnya.

