GELUMPAI.ID – Mantan Kepala SMA Negeri 4 Kota Serang, Ade Suparman, akhirnya angkat bicara soal munculnya dugaan sisi gelap yang disebut-sebut terjadi di sekolah yang ia pimpin selama belasan tahun.
Dihubungi lewat sambungan telepon, Ade menegaskan bahwa selama masa kepemimpinannya, ia tak pernah menyimpan atau menutupi masalah apapun.
“Bapak (Ade Suparman) terus terang nggak pernah nyimpen permasalahan. Termasuk permasalahan dengan media, dengan LSM. Termasuk selama SMA 4 dipimpin bapak, nggak pernah ada permasalahan. Gitu tuh,” ucapnya pada Minggu 6 Juli 2025, seperti dikutip dari BANPOS.
Ia menduga, unggahan di media sosial yang menyebut berbagai persoalan di SMAN 4 Kota Serang ini muncul karena rasa kecewa dari sejumlah siswa dan alumni, terkait pelarangan acara perpisahan sekolah selama dua tahun terakhir.
“Artinya begini, alumni itu, apakah mereka ada ketidakpuasan setelah misalnya ingin perpisahan nggak diizinkan karena nggak boleh? Jadi udah dua tahun ini perpisahan kan nggak boleh oleh pemerintah provinsi. Nah, sehingga tidak ada perpisahan, mungkin itu salah satunya,” jelas Ade.
ODOT: Dulu Sukarela, Kini Disebut Wajib
Salah satu yang ramai disorot akun @savesmanfourkotser adalah kebijakan One Day One Thousand (ODOT) yang digagas sebagai sumbangan sukarela untuk pembangunan masjid sekolah.
Namun dalam praktiknya, sumbangan ini disebut berubah menjadi bersifat memaksa dan bahkan dipotong untuk kebutuhan lain.
Menanggapi hal itu, Ade menegaskan bahwa saat ia masih menjabat, ODOT murni digunakan untuk pembangunan masjid.
Skema pembagian dana menjadi 60:40, kata dia, baru terjadi setelah dirinya pensiun.
“Untuk masjid itu awalnya nggak seperti itu. Nih, awalnya nggak seperti itu ya. Nah, setelah Bapak keluar pensiun itu ada komitmen antara pengurus DKM dengan kesiswaan untuk pembagian seperti itu,” ujar Ade.
Ia menjelaskan, kebutuhan kesiswaan seperti menjenguk siswa yang sakit atau mengalami kecelakaan tidak bisa dibiayai dari dana BOS, sehingga muncul kesepakatan penggunaan sebagian dana ODOT.

