“Setiap lagu menjadi bab yang bernyanyi, justru bukan sebagai pelengkap, tapi denyut yang menyatu dengan kisahnya,” ungkap Karin.Kemayu.
Novel pertama dari trilogi ini mengangkat tema yang jarang dieksplorasi: cinta yang tumbuh antara seorang pria dan calon anak sambungnya — seorang remaja laki-laki dengan autisme dan mental retardasi. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta dua manusia dewasa, melainkan perjalanan emosional seorang calon ayah yang belajar mencintai dan melindungi tanpa status formal, tanpa ikatan darah.
Tema “true love is not only by blood” menjadi jantung dari kisah Bukan Sekadar Cinta. Dalam keseluruhan trilogi, pembaca diajak bukan hanya untuk jatuh cinta, tetapi juga untuk berpikir lebih dalam.
Cerita ini menyentuh isu-isu sensitif yang sering disisihkan: pernikahan siri, surrogacy, status anak di luar nikah, cinta beda usia, hingga pergulatan hormonal perempuan menjelang menopause.
Semua diolah dengan narasi yang lembut namun berani, menghadirkan penghormatan terhadap keberagaman, spiritualitas Bali, dan konsep reinkarnasi.
Dalam rangkaian proyek ini juga hadir video musik bertajuk KURO, yang menampilkan ilustrasi visual penuh makna.
Video ini mengangkat simbol kura-kura sebagai metafora cinta tak berbatas, lambang ketekunan sekaligus representasi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan warna biru sebagai identitasnya, KURO menjadi simbol langkah pelan, hati besar, dan cinta tanpa syarat.
Melengkapi keseluruhan kolaborasi adalah suara lembut nan emosional dari Vitalia, yang membawakan lagu Teman Hidup.
Lagu ini menjadi refleksi sempurna dari tokoh utama novel, Dayu, seorang ibu tunggal yang belajar kembali mencinta di usia yang tidak lagi muda.
Lebih dari sekadar proyek kreatif, kolaborasi ELEMENT dan Karin.Kemayu ini adalah bentuk keberanian untuk menantang batas cinta dan norma sosial.
Sebuah ajakan untuk menjadi rumah bagi satu sama lain, bahkan ketika dunia berkata sebaliknya.

