GELUMPAI.ID — Sejumlah negara Eropa kini tengah meningkatkan kesiapsiagaan sipil menghadapi potensi konflik bersenjata.
Pemerintah setempat mulai mengimbau warganya untuk membangun ketahanan psikologis, menyimpan logistik penting, hingga mengikuti simulasi evakuasi massal.
Langkah ini jadi sinyal jelas bahwa kekhawatiran terhadap ancaman perang bukan lagi hal yang jauh dari kenyataan.
Menurut laporan CNN, kekhawatiran ini muncul seiring meningkatnya potensi ekspansi militer Rusia.
Ketidakpastian dukungan keamanan dari Amerika Serikat juga menambah urgensi bagi negara-negara Eropa untuk memperkuat pertahanan internal.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dalam forum keamanan di Brussel pada Desember lalu menyatakan, “Sudah saatnya kita beralih pada pola pikir masa perang.”
Pernyataan itu memantik banyak negara untuk memperbarui panduan pertahanan sipil.
Komisi Eropa bahkan merilis panduan khusus agar masyarakat menyiapkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok selama minimal 72 jam jika terjadi krisis.
Komisi juga menekankan pentingnya membangun budaya kesiapsiagaan yang kuat di tengah masyarakat.
Jerman, misalnya, memperbarui Petunjuk Kerangka Kerja untuk Pertahanan Menyeluruh.
Dokumen ini secara gamblang menggambarkan bagaimana kehidupan warga akan berubah drastis saat terjadi perang.
Swedia juga bergerak cepat.
Negara itu membagikan ulang buku panduan berjudul Jika Krisis atau Perang Datang kepada jutaan rumah tangga.
Buku tersebut berisi instruksi menghadapi situasi seperti serangan udara, evakuasi, hingga serangan nuklir.
Warga Swedia diimbau untuk segera masuk ruangan, menutup jendela dan ventilasi, serta mengikuti siaran darurat lewat radio nasional.
Sementara itu, Finlandia yang berbatasan langsung dengan Rusia sudah punya sistem pertahanan sipil matang sejak dekade 1950-an.
Setiap gedung apartemen dan kantor wajib memiliki tempat perlindungan bom.
Setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, Finlandia langsung melakukan inventarisasi bunker nasional.
Hasilnya, ada lebih dari 50 ribu tempat perlindungan yang bisa menampung 4,8 juta orang dari total populasi 5,6 juta.

