GELUMPAI.ID — Formula 1 tengah bersiap menyambut era baru yang digadang-gadang bakal jadi titik balik terbesar dalam 25 tahun terakhir.
Musim 2026 akan memperkenalkan regulasi mesin, sasis, dan aerodinamika terbaru dengan sistem hybrid yang lebih canggih. Mobil-mobil baru akan lebih pendek dan ramping, tapi juga dituntut lebih lincah dan efisien.
Dengan mesin pembakaran internal dan motor listrik berbagi tenaga secara seimbang 50:50, beberapa tim mulai merasakan tekanan untuk beradaptasi.
Dilansir dari Crash, kekhawatiran mulai muncul soal kemungkinan gap yang melebar di antara tim papan atas dan tim belakang.
Bos tim Ferrari, Fred Vasseur, tak menampik skenario tersebut bisa terjadi.
“Kita harus ingat bahwa ini mungkin perubahan terbesar dalam F1 dalam 25 tahun terakhir – kita punya perubahan besar di mesin, sasis, dan regulasi olahraga,” ujar Vasseur.
Ia menambahkan, “Sebagai tim, kita harus mempertimbangkan semua aspek, dan saat ini kami mengambil arah tertentu. Saya yakin tidak semua tim mengambil arah yang sama, dan kami tidak tahu seperti apa hasilnya di 2026.”
Vasseur menyebut sulit memastikan balapan akan lebih ketat dibanding musim ini.
“Tapi saya pikir dengan konvergensi performa, dalam beberapa tahun terakhir kita sudah melihat celah yang mengecil. Dari posisi P1 ke P16, cuma beda enam sampai tujuh per sepuluh detik.”
Ia memperkirakan, “Pasti akan ada gap lebih besar tahun depan, tapi itulah DNA dari olahraga ini – berkembang dan mencoba mengejar. Jadi kami tak bisa mengeluh. Lihat saja musim depan.”
Mengutip laman Crash, kekhawatiran soal perbedaan performa sempat mencuat dalam pertemuan penting antara FIA dan para petinggi F1 di GP Bahrain bulan ini.
Beberapa opsi ekstrim sempat dibahas, termasuk membatalkan aturan baru dan kembali ke mesin V10 non-hybrid. Tapi akhirnya diputuskan tetap melaju dengan mesin hybrid V6 yang telah dirancang.
Menurut laporan dari Crash, peraturan baru ini justru jadi magnet bagi pabrikan besar seperti Audi, Cadillac, dan Honda untuk kembali ke F1.

