GELUMPAI.ID – Kasus pembunuhan CEO UnitedHealthcare, Brian Thompson, mencuatkan perhatian terkait riwayat masalah punggung yang diduga dimiliki oleh tersangka, Luigi Mangione. Berdasarkan keterangan dari dua orang yang mengenal tersangka dan informasi di profil media sosialnya, masalah punggung ini bisa menjadi faktor yang memengaruhi hidup Mangione.
Mangione kini tengah ditahan di Pennsylvania, menghadapi berbagai tuduhan di sana serta tuduhan pembunuhan di New York. Meskipun motifnya belum jelas, polisi menyebut bahwa Thompson sengaja menjadi target pembunuhan.
Kasus ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya, di mana banyak netizen mencoba menggali lebih dalam untuk mencari tahu bagaimana seorang pria muda berusia 26 tahun yang berasal dari keluarga terpandang dan pernah kuliah di universitas Ivy League bisa berakhir menjadi tersangka pembunuh. Para komentator di media sosial menyebutkan bahwa masalah punggung Mangione bisa jadi menjelaskan gangguan emosionalnya serta kesulitan mendapatkan perawatan melalui asuransi kesehatan.
Dilansir dari Reuters, belum dapat dipastikan apakah Mangione telah didiagnosis dengan masalah punggung atau pernah menjalani pengobatan termasuk operasi. Namun, jejak di media sosialnya menunjukkan adanya gambaran masalah punggung, termasuk foto rontgen yang memperlihatkan operasi tulang belakang pada profil X-nya, serta ulasan di Goodreads tentang sebuah buku berjudul “Crooked: Outwitting the Back Pain Industry and Getting on the Road to Recovery.”
Mangione juga mengunggah dokumen tulisan tangan sebanyak 14 halaman pada tahun 2021 yang diidentifikasi oleh Sky News dan belum diverifikasi oleh Reuters. Dalam dokumen tersebut, Mangione menyebutkan bahwa ia menderita cedera punggung yang dikenal dengan istilah L5-S1 isthmic spondylolisthesis, di mana salah satu tulang belakang tergelincir ke depan dan menekan vertebra di bawahnya.
Dr. Wellington Hsu, profesor bedah ortopedi di Northwestern University Feinberg School of Medicine, menjelaskan bahwa sekitar 6% populasi memiliki kondisi ini dan sebagian besar tidak menyadarinya karena biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Sekitar 20% dari mereka yang mengalami kondisi ini menunjukkan gejala, dan dari jumlah itu, 20% lainnya mungkin memerlukan operasi.

