Bola & Sports
Beranda » Bola & Sports » Fans MU Siapkan Aksi Besar di Laga Kandang Terakhir

Fans MU Siapkan Aksi Besar di Laga Kandang Terakhir

Luapan kekecewaan dan amarah penggemar Manchester United terhadap kepemilikan keluarga Glazer kembali mencapai puncaknya. (cr/x.com)

GELUMPAI.ID – Luapan kekecewaan dan amarah penggemar Manchester United terhadap kepemilikan keluarga Glazer kembali mencapai puncaknya. Setelah dua dekade merasakan dampak negatif dari kepemimpinan mereka, para suporter setia Setan Merah berencana menggelar aksi protes besar-besaran pada laga kandang terakhir musim ini melawan Aston Villa, yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Mei mendatang.

Rencana demonstrasi ini diumumkan secara resmi oleh kelompok suporter The 1958, tepat pada peringatan 20 tahun pengambilalihan kontroversial klub oleh keluarga Glazer pada tahun 2005. Pengambilalihan senilai 790 juta Poundsterling itu hingga kini masih menjadi luka mendalam bagi sebagian besar penggemar United.

Sejak saat itu, berbagai bentuk protes telah mewarnai perjalanan Manchester United. Pawai, demonstrasi di luar stadion, hingga aksi di media sosial menjadi cara para suporter menyuarakan ketidakpuasan mereka. Aksi terbaru yang direncanakan untuk laga melawan Aston Villa ini diharapkan menjadi pesan yang lebih kuat dan terpadu.

Dalam pernyataan resminya, The 1958 menegaskan bahwa semangat perlawanan terhadap keluarga Glazer tidak pernah padam. “Pertandingan kandang terakhir kami musim ini adalah melawan Aston Villa. Kami akan berbaris, sebagai satu kesatuan basis penggemar, untuk memperjelas 20 tahun berlalu, api kemarahan kami masih membara, penuh dengan amarah dan perlawanan. Kami akan kembali melakukan protes saat melawan Villa,” tulis mereka.

Kelompok suporter itu juga menyampaikan refleksi mendalam mengenai dampak kepemilikan Glazer selama dua dekade terakhir. “Mei 2005 menandai salah satu hari terkelam dalam sejarah Manchester United Football Club. Keluarga Glazer menjadi pemegang saham mayoritas, memicu pengambilalihan paksa yang selesai pada 29 Juni 2005. Momen itu menandai awal dari akhir bagi jiwa dan komunitas klub yang dulunya hebat ini – dikorbankan di altar keserakahan korporat,” lanjut pernyataan tersebut.

Mereka juga menyoroti bagaimana kesuksesan di era Sir Alex Ferguson sempat menutupi masalah mendasar yang ditimbulkan oleh kepemilikan Glazer. Namun, setelah pensiunnya sang manajer legendaris, “kebusukan di bawah permukaan” mulai terungkap, memperlihatkan “harga sebenarnya dari 20 tahun eksploitasi dan salah urus keuangan.”

Salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah tingginya utang klub yang mencapai lebih dari satu miliar Poundsterling. Para suporter menilai bahwa dana klub justru terkuras untuk membayar utang tersebut, bukan untuk pengembangan tim dan infrastruktur.

“Ratusan juta telah disedot untuk membayar utang itu – bukan oleh Glazer, tetapi oleh klub kami sendiri. Sementara Glazer terus mengantongi dividen, tahun demi tahun, terlepas dari kegagalan di lapangan. Old Trafford, yang dulunya adalah Teater Impian, hancur karena puluhan tahun diabaikan. Mereka telah mengambil segalanya,” tegas The 1958.

Bahkan, kedatangan investor baru, Sir Jim Ratcliffe, yang diharapkan membawa angin segar, juga diwarnai dengan kekecewaan akibat adanya pemangkasan ratusan pekerjaan di klub. Hal ini semakin menambah luka bagi para suporter yang merasa dikhianati.

“Suporter setia seumur hidup semakin dijauhkan dari klub yang mereka cintai – dengan harga yang tak terjangkau dan dipinggirkan. Ini adalah tusukan lain di jantung komunitas sepak bola kami. Kami ingin Glazer keluar dari klub kami. Mereka tidak pernah diterima. Mereka tidak diterima sekarang. Mereka tidak akan pernah diterima,” pungkas pernyataan The 1958 dengan nada penuh harap dan tekad untuk perubahan kepemilikan di Manchester United.

Aksi protes pada laga melawan Aston Villa nanti diprediksi akan menjadi demonstrasi besar yang akan menyuarakan kembali aspirasi jutaan penggemar Setan Merah di seluruh dunia.

Laman: 1 2