GELUMPAI.ID — FIA mengurangi denda maksimal bagi pembalap F1 yang kedapatan mengumpat. Kebijakan ini berlaku untuk semua kejuaraan di bawah naungan FIA.
Denda maksimal untuk pelanggaran pertama kini €5.000. Angka ini turun 50% dari denda sebelumnya yang mencapai €10.000.
Perubahan ini tertuang dalam revisi Appendix B Kode Olahraga Internasional. Aturan baru mulai berlaku setelah disahkan melalui voting elektronik Dewan Olahraga Motor Dunia.
Steward kini bisa menangguhkan denda sepenuhnya untuk pelanggaran tertentu. Syaratnya, ini harus pelanggaran pertama oleh pembalap atau tim.
FIA membedakan lingkungan terkendali dan tidak terkendali. Lingkungan terkendali seperti konferensi pers, sedangkan tidak terkendali mencakup situasi di lintasan.
Menurut laporan dari CRASH, perubahan ini hasil dari tinjauan ekstensif. Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem memimpin proses tersebut.
“Sebagai mantan pembalap reli, saya paham emosi yang dihadapi saat kompetisi,” kata Ben Sulayem. “Perubahan ini memastikan sportivitas tetap terjaga.”
Penyalahgunaan terhadap ofisial kini dihukum dengan sanksi olahraga, bukan denda. Kebijakan ini mempertegas komitmen FIA menjaga integritas olahraga.
Ronan Morgan, presiden komite pembalap, mendukung perubahan ini. “Pembalap adalah panutan, tapi ada perbedaan antara ucapan di lintasan dan konferensi pers,” ujarnya optimistis.
Steward juga mendapat panduan lebih jelas untuk membedakan pelanggaran di lintasan dan di luar lintasan. Fleksibilitas ini memungkinkan pertimbangan faktor mitigasi.
“Saya berterima kasih atas kepemimpinan presiden FIA dalam meninjau Appendix B,” kata Garry Connelly, ketua steward F1. “Perubahan ini memastikan hukuman diterapkan secara adil.”
FIA tetap mempertimbangkan keadaan khusus, seperti kasus Carlos Sainz. Pembalap Williams itu lolos dari hukuman di Bahrain setelah meminta maaf.
Aturan baru ini diharapkan membuat olahraga motor lebih ramah untuk semua kalangan. FIA juga ingin mendorong pertumbuhan olahraga ini secara global.
Perubahan ini mencerminkan upaya FIA menyeimbangkan disiplin dan pemahaman terhadap tekanan pembalap. Musim 2025 akan menjadi ujian nyata kebijakan ini.

