GELUMPAI.ID – Mahasiswa Prodi PPKn Universitas Banten Jaya (Unbaja) menggelar sosialisasi penyuluhan mengenai kenakalan remaja dengan tajuk ‘Anti Tawuran Antar Pelajar’ di Sekolah SMAN 8 Kota Serang.
Dengan sasaran pelajar SMA, mahasiswa tersebut mensosialisasikan di Kelas 11 IPA 1 dengan tujuan agar para siswa dapat menghindari perilaku menyimpang tawuran tersebut.
Perwakilan mahasiswa PPKn Unbaja, Yulia, menjelaskan bahwa kegiatan penyuluhan ini dilakukan karena adanya keresahan masyarakat terhadap remaja-remaja yang kerap melakukan aksi tawuran.
“Tawuran bisanya dilakukan oleh remaja yang masih duduk di bangku SMA atau remaja yang berusia 15-18 tahun. Tauran merupakan perilaku yang menyimpang dari norma yang berupa perkelahian, pengeroyokan dan penganiayaan,” ujarnya, Kamis 23 Januari 2025.
Menurutnya, remaja yang melakukan aksi tauran tidak mencerminkan karakter pelajar Pancasila dan bertentangan dengan UUD 1945.
Yulia juga menyampaikan, sebab terjadinya tauran dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.
“Faktor internal adalah faktor yang timbul dari individu itu sendiri, seperti rasa egois yang tinggi, mudah emosi, serta kekeliruan dalam menyelesaikan masalah. Sementara faktor eksternal berasal dari pengaruh keluarga, lingkungan sekolah yang kurang ketat peraturannya serta pergaulan bebas,” paparnya.
Disamping itu, lanjut Yulia, baru-baru ini banyak sekali terjadi aksi tawuran di berbagai daerah yang dimana para pelaku nya masih berstatus pelajar.
“Tauran sendiri membawa dampak yang sangat merugikan baik untuk si pelaku maupun masyarakat. Siswa/pelajar yang melakukan tauran beresiko diberhentikan dari sekolah, atau berdampak pada dirinya sendiri seperti cedera, kerugian fisik lainnya sampai kehilangan nyawa,” jelasnya.
Ia menuturkan, dampak lain dari tawuran sendiri adalah terganggunya proses belajar serta menurunnya moralitas pelajar dan memudarkan toleransi.
Yulia juga menegaskan, bahwa hal tersebut bisa dicegah dan tentu ada solusinya, namun untuk melerai rantai prilaku tawuran itu membutuhkan kolaborasi yang tinggi antara keluarga, pihak sekolah dan pemerintah.

