Selain itu, Pemerintah Provinsi Banten juga memperluas lahan budidaya bawang merah seluas 6 hektare dan cabai 8 hektare yang tersebar di Serang, Lebak, Pandeglang, dan Tangerang.
Agus menegaskan, kebijakan nasional terkait subsidi pupuk sebesar 20 persen turut memperkuat ketahanan petani.
“Bisa kita bayangkan beban pertanian mulai berkurang, dan ini berdampak signifikan terhadap nilai tambah di tingkat petani,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa, mengatakan bahwa GNPIP merupakan bentuk nyata sinergi antarinstansi dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami ingin produktivitas pertanian tidak hanya menjaga stabilitas harga, tapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Tahun ini inflasi di Banten Alhamdulillah terkendali di angka 2,31 persen, masih dalam target nasional,” ujar Ameriza.
Ia menyebut, Banten juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif, mencapai 5,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Namun, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat daerah terlena.
“Meskipun inflasi dan pertumbuhan ekonomi kita bagus, tantangan tetap ada. Kita harus meningkatkan produktivitas, menjaga efisiensi distribusi, dan mengantisipasi dampak perubahan iklim,” katanya.
Ameriza menambahkan, Bank Indonesia menjalankan strategi pengendalian pangan melalui empat aspek utama atau 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Selama tahun ini, kita telah melaksanakan 462 kali Gerakan Pangan Murah di seluruh Provinsi Banten, serta kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan bahan pokok seperti beras, ayam, telur, dan ikan,” jelasnya.
Selain itu, BI juga menyalurkan berbagai bantuan alat dan sarana pertanian seperti combine harvester, hand tractor, greenhouse, dan sistem pertanian berbasis teknologi (IoT).
Dukungan ini diharapkan dapat mendorong petani muda agar tertarik kembali ke sektor pertanian melalui penerapan smart farming.

