GELUMPAI.ID — Perusahaan ride-hailing Grab berencana mengakuisisi pesaingnya di Indonesia, GoTo. Kesepakatan ditargetkan tercapai pada kuartal kedua 2025.
Grab, yang berbasis di Singapura, telah menunjuk penasihat untuk mengerjakan rencana akuisisi ini. Pembiayaan masih dalam pembicaraan dengan beberapa bank.
Valuasi GoTo diperkirakan mencapai sekitar Rp112 triliun. Saham GoTo di bursa Jakarta telah naik 20% sejak awal tahun, dengan nilai pasar Rp93 triliun.
Saham Grab di Nasdaq meningkat 2,4% tahun ini. Nilai pasarnya kini hampir mencapai Rp320 triliun.
Menurut laporan dari Reuters, GoTo akan menjual unit internasionalnya. Di Indonesia, operasionalnya kecuali divisi keuangan akan diambil alih Grab.
Syarat kesepakatan belum final. Negosiasi antara kedua perusahaan masih berlangsung.
Grab menawarkan layanan pengiriman, mobilitas, dan keuangan. Perusahaan ini didukung oleh Uber.
GoTo, didukung SoftBank dan Taobao China, adalah ekosistem digital terbesar di Indonesia. Mereka fokus pada e-commerce dan layanan perbankan.
Merger ini berpotensi menguasai 85% pasar ride-hailing senilai Rp128 triliun di Asia Tenggara. Namun, rencana ini menghadapi hambatan regulasi.
“Entitas gabungan akan menguasai lebih dari 91% pasar di Indonesia dan hampir 90% di Singapura,” kata David Zhang dari Euromonitor International!
Regulator di Indonesia dan Singapura kemungkinan akan memeriksa merger ini ketat. Kekhawatiran terhadap monopoli menjadi isu utama.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, menyebut otoritas Indonesia mungkin lebih fleksibel. Mereka bisa mempertimbangkan manfaat ekonomi jangka panjang.
Pembicaraan merger Grab dan GoTo telah berlangsung bertahun-tahun. Kendala utama adalah isu persaingan pasar.
Pengawasan antimonopoli meningkat di tengah kenaikan biaya hidup. Ketidakpastian ekonomi global memperumit situasi.
Grab dan GoTo belum memberikan pernyataan resmi. Perkembangan kesepakatan akan terus dipantau.

