GELUMPAI.ID — Hamas setuju untuk membebaskan tawanan Israel-Amerika, Edan Alexander. Langkah ini bertujuan memajukan pembicaraan gencatan senjata dan memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya, mengumumkan keputusan tersebut pada Minggu. Ia mengatakan ini menyusul kontak langsung dengan Amerika Serikat.
“Gerakan ini menegaskan kesiapannya untuk segera memulai negosiasi intensif,” ujar al-Hayya. Ia menekankan upaya mengakhiri perang dan menukar tahanan.
Hamas menyebut pembicaraan dengan Washington berlangsung “positif.” Pembebasan Alexander dianggap sebagai langkah menuju gencatan senjata.
Menurut Middle East Eye, Alexander bisa dibebaskan secepatnya pada Senin. Pembebasan ini menyusul negosiasi rumit yang melibatkan Qatar, Mesir, dan Turki.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengonfirmasi kesepakatan tersebut. “Kami mungkin menjemputnya besok,” kata Witkoff dikutip dari NBC News!
Presiden Donald Trump memuji perkembangan ini. “Ini adalah langkah dengan itikad baik terhadap Amerika Serikat,” ujar Trump di Truth Social.
Witkoff memuji Trump atas terobosan ini. “Ini momen besar, sebagian besar karena Trump,” katanya.
Alexander, warga negara ganda AS-Israel, ditangkap pada 7 Oktober 2023. Ia sedang bertugas di militer Israel dekat perbatasan Gaza.
Hamas terbuka terhadap badan independen yang mengelola Gaza. Ini akan mendukung rekonstruksi dan mencabut blokade Israel.
Israel memberlakukan blokade total di Gaza sejak 2 Maret. Cadangan makanan dari gencatan senjata sebelumnya hampir habis.
Pada 18 Maret, Israel melanjutkan serangan militernya. Ini mengakhiri kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Januari.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 19 kematian dalam 24 jam terakhir. Total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 mencapai 52.829.
Witkoff menyebut pembebasan Alexander sebagai “prioritas utama.” Kunjungan Trump ke Timur Tengah menegaskan urgensi isu ini.
“Keluarga sangat gembira,” ujar Witkoff. Ia menyebut pembebasan ini sebagai isyarat baik terhadap Trump.

