News
Beranda » News » Hamas Siap Lepaskan Semua Sandera Asal Perang Gaza Berakhir

Hamas Siap Lepaskan Semua Sandera Asal Perang Gaza Berakhir

GELUMPAI.ID — Hamas menginginkan kesepakatan komprehensif untuk mengakhiri perang di Gaza dengan menukar seluruh sandera Israel dengan warga Palestina yang dipenjara di Israel.

Hal ini disampaikan oleh Khalil Al-Hayya, kepala Hamas di Gaza, yang juga memimpin tim negosiasi mereka. Al-Hayya menolak tawaran gencatan senjata sementara yang diajukan Israel.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Al-Hayya menegaskan bahwa Hamas tidak akan lagi menyetujui kesepakatan sementara.

“Kami siap untuk segera memulai perundingan paket komprehensif untuk melepaskan semua sandera yang kami tahan sebagai imbalan untuk mengakhiri perang Gaza, pembebasan tahanan Palestina, dan rekonstruksi Gaza,” ujar Al-Hayya.

Al-Hayya juga mengkritik pemerintahan Israel yang, menurutnya, menggunakan kesepakatan parsial untuk menyembunyikan agenda politik mereka.

“Netanyahu dan pemerintahnya menggunakan perjanjian sementara untuk melanjutkan perang penghancuran dan kelaparan, meskipun harus mengorbankan semua sandera mereka,” katanya.

Para mediator Mesir telah berupaya menghidupkan kembali perjanjian gencatan senjata Januari yang sebelumnya menghentikan pertempuran di Gaza, namun belum ada tanda-tanda kemajuan karena kedua belah pihak saling menyalahkan.

“Komentar Hamas menunjukkan mereka tidak tertarik pada perdamaian, tetapi pada kekerasan yang terus-menerus. Syarat yang diajukan oleh Administrasi Trump tidak berubah: lepaskan sandera atau hadapi neraka,” ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, James Hewitt.

Putaran negosiasi terbaru di Kairo pada Senin lalu untuk mengembalikan gencatan senjata dan membebaskan sandera Israel berakhir tanpa kemajuan yang jelas.

Israel mengusulkan gencatan senjata 45 hari di Gaza untuk memungkinkan pembebasan sandera dan memulai pembicaraan tidak langsung untuk mengakhiri perang. Namun, Hamas menolak salah satu syarat Israel, yakni menyerahkan senjata mereka.

Sumber: Reuters