GELUMPAI.ID — Pada sebuah sore yang cerah di bulan April, Tawanda Zvamaida, 41 tahun, duduk bersama empat temannya di sebuah bar terbuka di Zimbabwe.
Mereka sedang mendiskusikan protes anti-pemerintah yang baru-baru ini berlangsung, di mana polisi menangkap sekitar separuh dari 200 peserta protes.
Protes tersebut digelar pada 31 Maret setelah seruan dari seorang mantan anggota partai Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa. Zvamaida, yang tinggal di Chitungwiza, kota sekitar 25 km dari ibu kota Harare, mengatakan bahwa meskipun banyak warga yang mendukung protes, mereka memilih untuk tidak hadir.
Meski polisi menjamin situasi tetap “damai”, banyak yang takut akan terjadinya kekerasan. Protes tersebut menuntut pengunduran diri Mnangagwa yang dianggap sebagai bagian dari elit politik yang korup dan pemerintahan yang menghadapi krisis ekonomi.
Para yang ditangkap dituduh melempar batu kepada polisi dan kini menghadapi tuduhan “ikut serta dalam pertemuan dengan niat untuk memicu kekerasan publik”.
Zvamaida mengungkapkan, “Secara pribadi, saya ingin ikut berprotes, tapi tidak ada rencana koordinasi yang jelas.” Menurutnya, ketakutan menguasai banyak orang yang ingin turun ke jalan.
Namun, protes-protes ini memberi harapan bagi banyak warga Zimbabwe yang terus berjuang untuk reformasi ekonomi dan demokrasi.
Cassandra, seorang penjual buah di Chitungwiza, mengatakan bahwa sejak munculnya oposisi kuat pada akhir 1990-an, pemilu di Zimbabwe tidak lagi bermakna.
Di bawah pemerintahan Mnangagwa, aktivis oposisi sering dipenjara hanya karena berkumpul. Selama hampir tiga dekade, Zimbabwe dilanda krisis ekonomi dengan harga makanan yang melambung, nilai mata uang yang jatuh, dan gaji yang rendah.
Cassandra juga berpendapat, “Kami membutuhkan pemimpin baru, tetapi saya tidak percaya Mnangagwa akan mengundurkan diri dengan sukarela.”
Ia merasa bahwa hanya sedikit orang yang berani berbicara terbuka karena ketakutan akan penganiayaan.
Kondisi kehidupan di kawasan seperti Chitungwiza menunjukkan ketimpangan sosial yang besar. Banyak warga yang hidup tanpa akses air bersih selama lebih dari 20 tahun dan harus membeli air dari penyedia tanki penyimpanan.

