GELUMPAI.ID – Harga minyak mentah stabil di perdagangan Asia pada Kamis (12/12) karena lemahnya permintaan global dan kenaikan inventori bensin serta distilat AS yang lebih tinggi dari perkiraan mengimbangi dampak sanksi baru Uni Eropa yang mengancam aliran minyak Rusia.
Pergerakan Harga Minyak
- Brent Crude: Naik tipis 14 sen menjadi $73,66 per barel pada pukul 05.19 GMT.
- West Texas Intermediate (WTI): Menguat 6 sen menjadi $70,35 per barel. Kedua patokan harga ini sebelumnya naik lebih dari $1 pada Rabu.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk 2025 pada Rabu, penurunan terbesar dalam lima bulan berturut-turut. “Investor akan memantau dengan seksama estimasi keseimbangan pasar IEA untuk 2025 yang mencerminkan pengumuman terbaru OPEC,” tulis analis ANZ dalam catatan.
Meski begitu, permintaan minyak global masih menunjukkan ketahanan, meskipun pertumbuhannya melambat bulan ini. Analis JPMorgan menyebutkan, “Pertumbuhan permintaan selama seminggu terakhir tertekan oleh sedikit penurunan konsumsi bahan bakar jet di banyak wilayah dunia.”
Faktor Pendukung dan Penekan Harga
- Lemahnya Permintaan Global
- Permintaan lemah di China, importir minyak terbesar dunia, menjadi salah satu faktor utama. Namun, rencana Beijing untuk mengadopsi kebijakan moneter yang “cukup longgar” pada 2025 diharapkan dapat mendorong permintaan.
- Impor minyak mentah China meningkat lebih dari 14% secara tahunan pada November, pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir.
- Inventori AS
- Data Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan kenaikan inventori bensin dan distilat di AS lebih tinggi dari ekspektasi, menambah tekanan pada harga.
- Sanksi Uni Eropa
- Harga sempat naik pada Rabu setelah Uni Eropa menyepakati paket sanksi ke-15 terhadap Rusia. Sanksi ini menargetkan armada kapal “bayangan” yang digunakan Rusia untuk menghindari batas harga $60 per barel yang diberlakukan oleh G7 pada 2022.
- Tanggapan Rusia dan AS
- Kremlin menilai bahwa potensi pengetatan sanksi AS terhadap minyak Rusia mencerminkan niat pemerintahan Presiden Joe Biden untuk meninggalkan “warisan sulit” dalam hubungan AS-Rusia.
- Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menyatakan bahwa AS terus mencari cara kreatif untuk mengurangi pendapatan minyak Rusia, dengan menyebut permintaan global yang lebih rendah sebagai peluang untuk memperketat sanksi.
Investor kini mengalihkan perhatian mereka pada pertemuan Federal Reserve AS minggu depan, yang dapat memberikan sinyal lebih lanjut tentang kebijakan pemotongan suku bunga. Hal ini diharapkan dapat memberikan petunjuk tambahan bagi pasar minyak global.

