Hari Guru, Yuk Tengok Perjuangan Miss G Dalam Film Freedom Writers

Gelumpai.ID – Menengok kalender, hari ini kita sedang berada pada tanggal 25 November. Adakah yang menarik pada tanggal ini? Yups, hari ini merupakan peringatan Hari Guru! Berbicara tentang guru, tentu kita akan mengingat bagaimana jasa-jasa mereka dalam mencerdaskan anak bangsa, termasuk kita.

Nah kali ini, kita akan coba untuk membahas terkait dengan film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang guru, dalam merubah satu kelas yang berisi anak didik bermasalah. Mereka terlibat dalam pergaulan bebas, berjuang dalam lingkungan yang sentimen akan ras, dan dikelilingi oleh tindak kekerasan.

Film tersebut ialah Freedom Writers. Film yang diadaptasi dari kehidupan nyata seorang Erin Gruwell ini dapat dikatakan sebagai film yang sangat menginspirasi. Pasalnya, Erin Gruwell ini telah menunjukkan sifat guru yang mungkin mendekati sempurna ya? Hehe

Dikisahkan dalam film itu, Erin Gruwell atau akrab dipanggil Miss G oleh muridnya, diberikan tanggungjawab untuk menjadi wali kelas 203, yaitu kelas ‘terbelakang’ dan diisi oleh murid-murid pembuat onar. Latar belakang ras mereka pun bermacam-macam, ada yang Cina, Kamboja, Latin, kulit hitam, kulit putih, dan seterusnya.

Hal ini diperparah dengan tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh pihak sekolah, kepada murid di kelas 203 itu. Pihak sekolah menganggap bahwa murid yang berada di kelas 203, hanyalah ‘buangan’ dan tidak layak untuk dididik oleh mereka.

By the way, sekolah itu merupakan sekolah yang cukup terkenal akan kualitasnya. Mereka terpaksa menerima murid-murid bermasalah karena adanya regulasi dari pemerintah yang mewajibkan hal itu.

Pada awalnya, Miss G sangat kesulitan dalam mengatur kelas tersebut. Bahkan, untuk mengajak anak didiknya untuk masuk kelas saja, ia membutuhkan pertolongan dari petugas keamanan sekolah! Kebayang kan bagaimana sulitnya Miss G dalam menjalankan tugas mulianya itu.

Namun lambat laun, Miss G berhasil memahami karakteristik setiap muridnya. Hal ini setelah Miss G melakukan sebuah ‘Permainan Garis’. Dalam permainan itu, Miss G meminta murid-muridnya untuk berdiri pada sebuah garis yang telah disiapkan, apabila kondisi yang dibacakan olehnya pernah dialami oleh para murid.

Pertama-tama, kondisi yang disampaikan oleh Miss G masih terbilang ringan. Seperti apakah anak-anak tahu tentang salah satu musik dari artis terkenal, hingga pertanyaan-pertanyaan ringan lainnya. Dan pada akhir permainan, Miss G menyampaikan sebuah kondisi, yaitu kurang lebih seperti ini.

“Apakah ada diantara kalian yang pernah kehilangan seorang teman akibat tindak kekerasan antar geng?”

“Satu teman?”

“Dua teman?”

“Tiga teman?”

“Lebih dari tiga teman?”

Satu teman, seluruh muridnya berdiri di atas garis. Dua teman, masih banyak yang berdiri di atas garis. Tiga teman, mulai sedikit yang masih berdiri di atas garis. Dan lebih dari tiga, hanya beberapa dari mereka yang masih bertahan di atas garis.

Dari situlah, Miss G memahami bahwa keonaran yang diciptakan oleh murid-muridnya, diakibatkan kerasnya kehidupan yang mereka jalani.

Miss G memahami bahwa untuk mendidik mereka, dibutuhkan pendekatan persuasif dari hati ke hati. Oleh karena itu, Miss G menugaskan kepada murid-muridnya untuk menuliskan sebuah diari yang berisikan kehidupan dan curahan hati mereka sehari-hari.

Sisanya, tonton sendiri saja ya filmnya, gak seru kalau ditulis semua hehe.

Lantas, apa yang didapat dari film ini? Menurut pendapat saya, ada beberapa hal penting yang dapat dijadikan refrensi mengajar para guru di kehidupan nyata.

Gunakan Pendekatan Persuasif

Mugkin masih banyak diantara guru-guru kita yang menggunakan pendekatan ‘represif’ dalam mengatur murid-muridnya. Saya pun salah satunya hehe. Menurut saya, pendekatan ini bisa dilakukan sewaktu-waktu. Namun, alangkah lebih baik kita coba untuk mencontoh Miss G.

Ia menggunakan pendekatan persuasif dan coba memahami muridnya dengan membaca isi hati mereka. Dan tara! Kelas yang paling ‘badung’ sekalipun, dapat menjadi salah satu kelas yang paling inspiratif dalam sejarah! Mereka yang tadinya memiliki egosentris rasial yang mengakar, dapat menjadi pribadi yang bahkan siap mengorbankan apa saja bagi temannya yang berbeda ras.

Ciptakan Suasana Pendidikan Yang Inklusif

Sekali lagi, kelas 203 yang menjadi tanggungjawab Miss G, merupakan kelas yang listas rasial. Tentu apabila Miss G tidak menciptakan suasana inklusif, entah apa yang terjadi dalam kelas itu.

Sedikit spoiler lagi, dalam sebuah adegan, ada seorang murid kulit hitam yang cukup pintar. Ia berada di kelas yang diisi oleh orang-orang pintar pula. Namun, disana ia mendapatkan perlakuan yang diskriminatif, baik oleh teman kelasnya maupun wali muridnya.

Saking gak betah sama perlakuan itu, ia meminta untuk dipindahkan ke kelasnya Miss G. Dan di dalam kelas Miss G, ia pun tidak mendapatkan perlakuan khusus. Ia yang pintar, tidak dibedakan dengan murid yang bahkan untuk membaca saja masih kesulitan.

Nah, mungkin masih ada ya dalam dunia pendidikan kita, yang terkadang memperlakukan muridnya yang pintar, dengan muridnya yang menuju pintar, dengan perlakuan yang berbeda. Tentu, hal ini dapat mengganggu aktifitas belajar. Karena, para murid yang mendapatkan perlakuan diskriminatif, akan memiliki fikiran-fikiran negatif seperti “Yaudalah, saya kan bodoh”.

Perlu diingat, tujuan belajar itu ya cuma satu, : Biar pinterrr!

Sekian sedikit review dari film Freedom Writers, kalau masih penasaran, tonton saja ya filmnya 🙂

About gelumpai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *