GELUMPAI.ID – Ibu dari saksi perekam video kasus dugaan pengeroyokan anggota Paskibra SMAN 1 Kota Serang, Neneng Fitria Pary, angkat bicara soal tekanan yang dialami anaknya.
Ia menuturkan, peristiwa tersebut berdampak serius pada kondisi psikologis sang anak yang mengalami depresi.
“Saat kejadian itu, sebelum anak saya di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan), diwawancarai, tertanggal 20 saat itu, sorenya itu ada pemotretan rumah saya. Anak saya memperhatikan,” ungkap Neneng pada Selasa, 30 September 2025.
Ia menjelaskan, anaknya semakin tertekan saat menerima surat panggilan dari kepolisian.
“Nah, anak saya sudah depresi saat itu. Begitu pemanggilan saja, dia sudah nangis dan merasa bersalah. Karena video itu diambil oleh anak saya secara diam-diam. Karena memang anak saya itu punya niat baik, rasa empati kepada korban. Jadi dia mengambil videonya itu diam-diam, dan menyerahkannya kepada korban pada saat korban divisum,” jelasnya.
Namun, niat baik itu justru berbalik menjadi beban. Video yang direkam dengan maksud empati, malah tersebar sepotong-sepotong dan membuat masalah semakin panjang.
“Mentalnya kena anak saya. Dia sakit di tanggal 19, tanggal 20 seharusnya BAP. Akhirnya tanggal 20, suami saya segera kita bawa ke Kementerian Perlindungan Anak. Kami konsultasi kesehatan mental anak kami. Dia ketakutan, dia merasa bersalah, dia merasa depresi. Akhirnya kami tidak menghadiri BAP pertama,” ungkap Neneng.
Ia juga menyebut, anaknya turut mendapat pukulan dari pelaku. Meski demikian, pihak keluarga akhirnya memberi maaf dalam proses mediasi pertama, meski keluarga korban tidak hadir.
“Pada saat mediasi, yang orang tua korban tidak datang, itu orang tua si pelaku ini nangis-nangis, berikut anaknya nangis-nangis dan meminta maaf. Suami saya dan saya yang tadinya sangat emosi, tiba-tiba down melihat penyesalannya, dan kami memaafkan mereka,” tandasnya.

