News Ruang Getizen
Beranda » News » Inovasi Digital dalam Mendorong Inklusi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar)

Inovasi Digital dalam Mendorong Inklusi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar)

Artikel Disusun Oleh :

Nur Afiqatus Solihah
Naifa Arista Widya
Sarmi Armada
Deana Dila

Dosen Pembimbing : Dea mustika.S.Pd.M.Pd (deamustika@edu.uir.ac.id)

 

Disabilitas dan Ketimpangan Sosial di Daerah 3T

Penyandang disabilitas di daerah 3T menghadapi tantangan gada: selain keterbatasan fisik, mental, atau intelektual, mereka juga terkungkung oleh hambatan geografis, ekonomi, dan keterbatasan akses pada layanan publik.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), sebagian besar daerah 3T mengalami keterbatasan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan teknologi digital.

Keterbatasan akses ini membuat penyandang disabilitas sulit memperoleh hak-hak dasar seperti pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan partisipasi dalam kehidupan sosial. Banyak dari mereka hidup dalam ketergantungan, tersisih dari arus utama pembangunan nasional, dan kerap terabaikan dalam perumusan kebijakan lokal.

Inovasi Digital sebagai Solusi

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi digital menunjukkan dampak transformasional yang signifikan dalam membuka akses inklusif. Berbagai inovasi mulai dari edutech, healthtech, hingga platform sosial kini digunakan sebagai alat pemberdayaan disabilitas.

Salah satu contoh inspiratif datang dari Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Di wilayah yang tergolong daerah 3T ini, program “Sahabat Difabel Digital” yang digagas oleh kolaborasi pemerintah daerah, LSM, dan startup teknologi lokal telah berhasil menyediakan pelatihan keterampilan digital dasar dan penggunaan aplikasi asistif bagi puluhan penyandang disabilitas.

Melalui tablet khusus yang dilengkapi text-to-speech, aplikasi pembaca layar, serta layanan video edukatif dalam bahasa daerah dan isyarat, para penyandang disabilitas netra dan tuli kini mampu mengakses materi pendidikan, mengelola usaha mikro, bahkan memasarkan produk secara daring.

Inovasi Pemerintah dan Swasta

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) turut meluncurkan inisiatif “Internet untuk Semua” yang menargetkan penyediaan jaringan 4G di ribuan desa 3T. Program ini mempercepat penetrasi internet yang menjadi prasyarat dasar bagi keberhasilan berbagai inovasi digital inklusif.

Laman: 1 2 3