News Ruang Getizen

Inovasi Digital dalam Mendorong Inklusi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar)

Sementara itu, sektor swasta pun mulai berperan aktif. Beberapa startup sosial seperti Diffago, Ruangguru Inklusi, dan Suaraku.id menyediakan platform daring yang mendukung pendidikan berbasis kebutuhan khusus, pelatihan keterampilan kerja, dan penyuluhan hukum serta hak-hak penyandang disabilitas dalam bahasa yang mudah dimengerti.

Cerita sukses datang dari seorang penyandang disabilitas daksa di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Melalui pelatihan desain grafis digital berbasis aplikasi Canva dan CorelDRAW yang ia ikuti secara daring, kini ia mampu membuka jasa desain logo dan undangan yang dipasarkan melalui media sosial.

“Dulu saya hanya di rumah, sekarang saya punya penghasilan sendiri. Saya bangga bisa mandiri,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat dihubungi lewat Zoom oleh tim media.

Tantangan Masih Besar

Namun, keberhasilan program inovasi digital tersebut tidak menghapus berbagai tantangan struktural yang masih mengakar. Infrastruktur jaringan di beberapa daerah 3T masih belum stabil, daya listrik terbatas, dan ketersediaan perangkat digital masih menjadi barang mewah bagi sebagian masyarakat.

Tak hanya itu, rendahnya literasi digital dan keterbatasan SDM lokal untuk mendampingi disabilitas dalam memanfaatkan teknologi juga menjadi hambatan. Sebagian besar aplikasi juga belum sepenuhnya menerapkan prinsip universal design yang ramah difabel.

Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat kebijakan afirmatif yang menyasar secara langsung penyandang disabilitas di daerah 3T, termasuk peningkatan kapasitas guru inklusi, penyediaan teknologi asistif bersubsidi, serta integrasi layanan berbasis data yang akurat.

Kolaborasi Adalah Kunci

Pakar pendidikan inklusif dari Universitas Indonesia, Dr. Rita Martaningtyas, menyebut bahwa ‘inovasi digital hanya akan berhasil jika ekosistem sosial dan kelembagaan mendukungnya’.

“Artinya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan tentunya para penyandang disabilitas itu sendiri. Mereka harus menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam setiap kebijakan digital inklusi,” ujar Dr. Rita, dalam seminar daring yang diselenggarakan oleh Forum Digital Inklusi Nasional (FDIN) baru-baru ini.

Harapan Baru dari Pinggiran Negeri

Di tengah tantangan yang tidak ringan, hadirnya inovasi digital memberikan harapan nyata bahwa inklusi sosial bukanlah mimpi di daerah 3T. Dari Miangas hingga Merauke, dari Pulau Rote hingga Pegunungan Bintang, semangat untuk memberdayakan penyandang disabilitas melalui teknologi terus menggelora.

Laman: 1 2 3