GELUMPAI.ID — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada Jumat lalu bahwa kesepakatan terkait program nuklir dengan Amerika Serikat masih mungkin tercapai, asalkan Washington menunjukkan sikap realistis.
Araqchi menegaskan bahwa jika AS tidak mengajukan permintaan yang tidak realistis, maka kesepakatan bisa tercapai.
“Kami melihat keseriusan dari AS dalam putaran pertama perundingan yang berlangsung di Oman minggu lalu,” ujar Araqchi dalam konferensi pers di Moskow setelah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Putaran kedua perundingan dijadwalkan pada hari Sabtu di Roma.
Iran juga menyampaikan kepada AS bahwa mereka siap menerima beberapa pembatasan dalam pengayaan uranium, namun hanya jika ada jaminan yang sangat kuat bahwa Presiden Donald Trump tidak akan meninggalkan perjanjian nuklir lagi di masa depan.
Trump telah mengancam akan menyerang Iran jika negara itu tidak mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Iran menyebut program tersebut untuk tujuan damai, sementara Barat berpendapat bahwa Iran berusaha membangun bom nuklir.
“Saya ingin menghentikan Iran agar tidak memiliki senjata nuklir. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir. Saya ingin Iran menjadi negara besar dan makmur,” kata Trump saat ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk membiarkan Teheran memiliki program nuklir sipil.
Lavrov menambahkan bahwa Rusia “siap membantu, menjadi mediator, dan memainkan peran apa pun yang bermanfaat bagi Iran dan AS.”
Rusia telah berperan dalam negosiasi nuklir Iran sebelumnya sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dengan hak veto dan penandatangan kesepakatan nuklir yang ditinggalkan Trump pada 2018.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mengirim Araqchi ke Moskow dengan surat untuk Presiden Vladimir Putin, yang akan memberikan gambaran tentang perundingan tersebut kepada Kremlin.
Araqchi juga dijadwalkan untuk mengunjungi Beijing dalam beberapa hari mendatang, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita negara Iran, IRNA, pada Jumat lalu.

