GELUMPAI.ID — Angka insiden Islamofobia di Australia melambung lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa serangan fisik, pelecehan verbal, serta ancaman kekerasan terhadap Muslim semakin meningkat pesat. Laporan dari Islamophobia Register menyebutkan bahwa antara Januari 2023 dan Desember 2024 tercatat 309 insiden tatap muka, lebih dari dua setengah kali lipat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Insiden daring yang terverifikasi juga mengalami lonjakan lebih dari tiga kali lipat, mencapai 366 kejadian.
Wanita dan anak perempuan menjadi korban utama dalam peningkatan Islamofobia ini, menyumbang sekitar tiga perempat dari semua insiden. Mereka bahkan lebih rentan menjadi sasaran serangan fisik dibandingkan anak laki-laki dan pria dewasa. “Ini benar-benar menjadi Islamofobia yang bergender,” ujar Dr. Nora Amath, Direktur Eksekutif Islamophobia Register. “Mayoritas korban adalah perempuan Muslim dan mayoritas pelaku adalah laki-laki. Ini sangat jelas dan sangat memprihatinkan,” tambahnya.
Penelitian ini dilakukan oleh Islamophobia Register bersama dengan Universitas Deakin dan Monash, yang melaporkan peningkatan terbesar dalam insiden Islamofobia sejak dimulainya laporan pada 2014. Bahkan anak-anak seringkali menjadi saksi mata dari insiden tersebut, termasuk melihat ibu mereka diserang secara fisik atau dihina.
Beberapa insiden yang tercatat termasuk seorang ibu yang diserang di pusat perbelanjaan di depan lima anaknya, serta seorang wanita yang diserang saat ingin beribadah di masjid, di mana pria tersebut menodainya dengan tinja.
Hampir setengah dari insiden tatap muka terjadi di New South Wales (NSW), yang merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar di Australia. Selain itu, lebih dari seperempat kejadian terjadi di jalanan atau saat mengemudi, sementara tempat kedua yang paling banyak terjadi adalah di tempat kerja, disusul sekolah, pusat perbelanjaan, universitas, dan transportasi umum.
Laporan ini juga mencatat lonjakan besar dalam insiden Islamofobia dalam tiga minggu setelah serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 dan selama konflik yang berlangsung di Gaza. Selama periode tersebut, jumlah insiden Islamofobia meningkat lebih dari 1.300% dibandingkan tahun sebelumnya.

