GELUMPAI.ID — Pasukan Israel menyerbu enam sekolah yang dikelola UNRWA di kamp pengungsi Shuafat, timur laut Yerusalem. Siswa dan staf diusir, dan sekolah-sekolah tersebut ditutup.
Polisi Israel dikerahkan di sekitar dan dalam area sekolah. Operasi ini dilakukan kemarin.
Pada April lalu, otoritas Israel mengeluarkan perintah militer kepada kepala sekolah putri di Shuafat. Perintah itu memaksa penutupan sekolah per 8 Mei dengan alasan “kurangnya izin resmi”.
Perintah tersebut juga mencakup lima sekolah UNRWA lainnya di Silwan, Wadi Al-Joz, dan Sur Baher. Lebih dari 800 siswa pengungsi belajar di sekolah-sekolah ini.
Mengutip laman Middle East Monitor, Israel mencap UNRWA sebagai “organisasi teroris” pada Juli tahun lalu. Israel melarang operasi UNRWA dan memerintahkan penutupan semua sekolahnya.
Hamas mengutuk keras serangan Israel terhadap sekolah-sekolah tersebut. “Ini bagian dari perang menyeluruh terhadap keberadaan dan identitas Palestina, terutama di Yerusalem yang diduduki,” kata mereka!
Hamas mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga internasional untuk bertindak cepat. Mereka meminta tekanan agar sekolah-sekolah dibuka kembali.
Israel kerap menyamakan staf UNRWA dengan anggota Hamas tanpa bukti. Tujuannya untuk mendiskreditkan UNRWA, satu-satunya badan PBB yang mengurusi kebutuhan dasar pengungsi Palestina.
Israel berargumen, jika UNRWA ditutup, isu pengungsi Palestina akan hilang. Hak pengungsi untuk kembali ke tanah mereka pun dianggap tidak diperlukan.
Sejak akhir 1940-an, Israel menolak hak kembali pengungsi Palestina. Padahal, keanggotaan Israel di PBB mensyaratkan pengakuan hak tersebut.

