GELUMPAI.ID — PM Jepang Shigeru Ishiba berupaya memisahkan negosiasi tarif dengan isu keamanan dalam hubungan dengan AS. Langkah ini diambil menanggapi tekanan Presiden Donald Trump yang menyebut aliansi kedua negara “tidak seimbang”.
“Perundingan tarif dan keamanan nasional harus dipisahkan,” tegas Ishiba kepada parlemen, Senin (22/4).
Ia khawatir pencampuran dua isu ini akan mengaburkan esensi masing-masing masalah.
Dikutip dari Japan Times, Trump tetap bersikukuh mengkritik aliansi keamanan AS-Jepang yang telah berjalan 65 tahun. AS saat ini memberlakukan tarif 25% untuk mobil, baja, dan aluminium dari Jepang.
Menteri Pertahanan Gen Nakatani menegaskan tidak ada alasan untuk merundingkan ulang pembiayaan pasukan AS sebelum perjanjian berakhir pada 2027. Jepang tercatat mengeluarkan ¥227 miliar untuk biaya operasional pangkalan AS tahun ini.
“Kami akan mulai pembahasan pembagian beban yang tepat tahun depan,” ujar Menteri Luar Negeri Takeshi Iwaya.
Jepang juga menggelontorkan ¥456 miliar tambahan untuk sewa lahan dan relokasi marinir AS dari Okinawa ke Guam.
Para analis memprediksi Trump akan terus menggunakan isu keamanan sebagai alat tawar dalam negosiasi perdagangan. Pada 2019, ia pernah meminta Jepang menambah kontribusi pembiayaan pasukan AS menjadi $8 miliar per tahun.
Sheila Smith dari Council on Foreign Relations mengatakan, “Ishiba ingin memisahkan ekonomi dari aliansi, sementara Trump ingin kesepakatan cepat sebagai bukti kesuksesan pendekatannya.”
James Schoff dari Sasakawa Peace Foundation menyarankan Jepang bisa memberikan “kemenangan simbolis” kepada Trump tanpa mengubah substansi.
Misalnya dengan mengakui kontribusi anggaran pertahanan Jepang yang terus meningkat.
Negosiasi tarif AS-Jepang diperkirakan akan berlangsung alot. Di satu sisi, Trump ingin menunjukkan hasil nyata sebelum pemilu. Di sisi lain, Jepang bertekad melindungi kepentingan ekonominya tanpa mengorbankan stabilitas keamanan regional.

