GELUMPAI.ID – Adanya informasi balita yang menderita gizi buruk di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mendapatkan atensi dari sejumlah pihak. Hal itu juga berdampak pada penilaian kinerja Kader Kesehatan yang tengah melakukan penanganan terhadap balita bernama Juliyadi.
Disebutkan usai meluasnya informasi gizi buruk yang dialami oleh Juliyadi, terdapat warga yang juga tinggal di Kelurahan yang sama, menyebut kader kesehatan di Kampung Kebon Kelapa II RT 02 RW 01 itu lalai. Tak hanya itu, kinerja yang dilakukan oleh para Kader Kesehatan itupun dikomentari berbagai hal, hingga akhirnya Ketua LPA Kota Serang, Aulia Esa Rahman, turut angkat bicara.
Menurut Esa, dirinya juga mendapatkan informasi melalui pesan singkat berupa link pemberitaan yang terkesan menyalahkan kader dan pemerintah setempat. Ia kemudian melakukan koordinasi dengan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Kader kesehatan setempat untuk mengindentifikasi keadaan dan kronologis kondisi balita usia 2,5 tahun itu.
“Berbekal dua informasi awal, baik dari pemberitaan maupun dari lapangan, saya bertemu dengan Kader Kesehatan yang didampingi Ketua RT serta bertemu anak yang mengalami gizi buruk tersebut,” ungkapnya, Kamis (8/12).
Menurutnya, kondisi yang dialami Juliyadi merupakan kondisi yang terjadi secara berkelanjutan di keluarganya, karena sudah ada kejadian serupa yang dialami sang kakak dan juga pamannya saat balita. Pengalaman tersebut, kata dia, dapat terjadi sebagai dampak dari dokumen kependudukan yang tidak dimiliki dan sejumlah keterbatasan.
“Kondisi ini terjadi salah satunya karena dampak tidak adanya Adminduk dan keterbatasan pengetahuan akan pentingnya kesehatan anak. Kemudian keterbatasan ekonomi keluarga, serta keterbatasan informasi akan layanan pemerintah yang dapat diakses masyarakat, terutama terkait layanan kesehatan dimana masih ada ketakutan mengenai biaya yang harus ditanggung,” jelasnya.
Dari informasi yang didapat olehnya, patut disyukuri bahwa Juliyadi memang sudah mendapatkan intervensi pemerintah melalui program pengentasan gizi buruk dari Kelurahan Kasunyatan, Puskesmas Kasemen, serta pihak lain yang difasilitasi pelaksanaannya melalui Kader Kesehatan. Selain itu, dokumen kependudukan sedang dalam proses penerbitan melalui kantor kelurahan, guna memudahkan persyaratan bagi Juliyadi apabila akan mengakses layanan umum yang dibutuhkan.
Esa menilai, upaya tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan perubahan yang dialami Juliyadi belum konsisten ke arah yang lebih baik. Hal tersebut perlu dievaluasi bersama mengenai kedisiplinan dan ketekunan pengasuh, dalam hal ini adalah sang nenek, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, serta memperhatikan kesehatan Juliyadi.
“Mengingat anak dan balita di keluarga tersebut yang membutuhkan nutrisi tidak hanya Juliyadi dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki keluarganya. Sehingga, solusi yang dihasilkan dapat berdampak bagi Juliyadi sendiri maupun menumbuhkan keberdayaan keluarga untuk menjamin pemenuhan hak dasar setiap anak di keluarga tersebut,” terangnya.
Saat berkunjung ke rumah Rasmah, nenek Juliyadi, Esa juga menyampaikan edukasi pentingnya kesehatan anak dan juga menghilangkan ketakutan apabila akan mengakses layanan kesehatan yang ada. Apabila ada hambatan, kata dia, dapat berkonsultasi ke Ketua RT dan Kader Kesehatan yang telah gigih mendampingi sasarannya.
“Kami berharap di manapun kita berada, jika menemukan kejadian seperti ini jadilah pelopor dan pelapor. Pelopor pemenuhan dan perlindungan hak anak sesuai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, serta pelapor jika ada potensi pelanggaran terhadap pemenuhan dan perlindungan hak anak, semuanya harus kita lakukan demi menyiapkan generasi penerus yang berkualitas,” tandasnya.
Sebelumnya disampaikan, Kader Kesehatan yang tengah melakukan penanganan terhadap Juliyadi, Ipah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan penanganan terhadap balita tersebut, meski belum tercatat dalam Adminduk hingga usianya sudah 2,5 tahun. Akan tetapi, pihak keluarga disebut kurang mendukung dengan kemudahan akses yang diberikan, sehingga terdapat siaran berita yang kurang baik yang berdampak terhadap kader di lingkungan tersebut terkesan cuek.
“Kami sebagai kader berupaya terus untuk membantu, meskipun Juliyadi belum tercatat di Kartu Keluarga, kami upayakan dengan apa yang bisa dilakukan dan dimasukkan ke program gizi baik. Tapi keluarga jarang sekali membawa ke Posyandu ataupun ke Puskesmas dengan alasan sakit dan sebagainya, sebagai kader kami disebut lalai karena informasi gizi buruk tersebut. Insyaallah kami sudah melakukan yang terbaik, tinggal bagaimana keluarga mendukung kesembuhan Juliyadi,” katanya.
