Hal itu dirasakan langsung oleh para pengrajin, salah satunya Ani (52). Baginya, menganyam kini bukan hanya aktivitas turun-temurun, tapi juga sumber penghidupan yang lebih layak.
“Dulu kehidupan kami itu cuma dari hutan ke rumah, menganyam, boro-boro kita tahu desa. Dari kecil, sejak Sekolah Dasar sudah bisa menganyam. Sekarang, sudah bisa beli sepatu baru dari hasil menganyam,” tuturnya.
Ani menambahkan, hasil kerajinan anyaman bahkan mampu membantu meningkatkan kualitas hidup keluarganya, termasuk pendidikan anak.
“Terus terang, saya bisa menguliahkan anak juga hasil dari ini. Memang tidak sepenuhnya, tapi sedikit banyaknya kami hasilkan dari menganyam,” ujarnya.
Bagi masyarakat Desa Bandung, Reforma Agraria bukan sekadar tentang kepemilikan tanah, melainkan bagaimana memanfaatkan tanah dan sumber daya di atasnya secara berkelanjutan.
“Saat ini kami juga sudah berkolaborasi dengan universitas, pihak swasta juga pemerintah daerah agar terus mendukung dan meningkatkan desa wisata kami,” tandas Ani.

