GELUMPAI.ID — Bank of Canada membuat langkah signifikan dengan memangkas suku bunga kebijakan utamanya sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% pada Rabu (13/3/2025). Keputusan ini datang di tengah bayang-bayang kebijakan tarif yang akan diberlakukan oleh Amerika Serikat, mitra dagang utama Kanada.
Pemangkasan ini merupakan sinyal bahwa suku bunga mungkin tidak akan turun lebih jauh. Dalam konferensi pers setelah pengumuman, Gubernur Bank of Canada, Tiff Macklem, menjelaskan, “Kami fokus pada mempertimbangkan tekanan ke bawah dan tekanan ke atas tersebut. Tugas kami adalah menjaga stabilitas harga, dan itulah yang menjadi fokus kami.” Menurutnya, meskipun inflasi sudah berada pada atau sekitar target 2%, tantangan besar masih ada di depan.
Ini menjadi kali ketujuh Bank of Canada memangkas suku bunga. Dalam sembilan bulan terakhir, bank sentral Kanada telah mengurangi suku bunga sebanyak 225 basis poin, menjadikannya salah satu bank sentral paling agresif di dunia. “Kami mengakhiri tahun 2024 dengan landasan ekonomi yang kokoh. Namun, kini kami menghadapi krisis baru,” tambah Macklem, menggambarkan kondisi ekonomi yang tengah berguncang.
Perekonomian Kanada terancam akibat ketidakpastian kebijakan tarif dari AS. Trump baru saja mengenakan tarif sebesar 25% pada semua produk baja dan aluminium, yang langsung direspon Kanada dengan mengumumkan tarif balasan senilai US$20,68 miliar. Produk-produk seperti komputer hingga peralatan olahraga termasuk yang dikenakan tarif tambahan.
Ancaman tarif lebih tinggi dari Trump, khususnya setelah Provinsi Ontario menerapkan tarif tambahan pada ekspor listrik ke tiga negara bagian AS, semakin memperburuk keadaan. Meskipun belum ada tindakan lebih lanjut terkait wacana ini, ketegangan perdagangan telah meresahkan pasar.
Bank of Canada memperingatkan bahwa perang tarif yang terus berlanjut akan mengganggu pertumbuhan PDB dan menyebabkan inflasi yang tinggi, menciptakan tantangan besar bagi kebijakan moneter. Macklem juga menyebutkan bahwa kebijakan moneter tidak dapat sepenuhnya mengimbangi dampak dari perang dagang ini. “Yang dapat dan harus dilakukan adalah memastikan bahwa harga yang lebih tinggi tidak menyebabkan inflasi yang berkelanjutan,” jelasnya.

