GELUMPAI.ID — Kebebasan pers di Timur Tengah menghadapi ancaman serius. Sensor, disinformasi, dan kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat.
Pada 2024, rekor jumlah jurnalis tewas tercatat. Sebanyak 122 jurnalis kehilangan nyawa, hampir setengahnya adalah warga Palestina.
Enam jurnalis tewas di Lebanon dan Sudan. Tiga lainnya di Irak dan Suriah, serta dua di Somalia.
Studi Pew bulan lalu menemukan pola menarik. Negara dengan kepuasan tinggi terhadap pers cenderung menilai demokrasi lebih positif.
Israel mengalami penurunan kepuasan terhadap demokrasi. Kepercayaan terhadap pers juga merosot.
Di Turki, 66% responden menyebut berita palsu sebagai masalah besar. Sebanyak 71% menganggap penting media bebas dari sensor negara.
Mengutip laman The Jerusalem Post, Iran menduduki peringkat 176 dari 180 dalam Indeks Kebebasan Pers 2024. Pemerintah secara eksplisit melarang jurnalis membahayakan Republik Islam.
Sebanyak 23 jurnalis ditahan di Iran. Mereka dilarang melaporkan insiden seperti ledakan pelabuhan.
Di Gaza, 10% jurnalis tewas akibat kampanye militer Israel melawan Hamas. Ancaman juga datang dari Hamas.
“Ancaman Hamas terhadap jurnalis Palestina yang berani bekerja harus dihentikan,” kata Jonathan Dagher dari RSF.
Turki menguasai 90% media nasional. Lima jurnalis, termasuk Joakim Medin, ditahan.
“Saya jurnalis, saya tidak melakukan kejahatan,” tulis reporter lepas Fatima Movlamli.
Bahrain tidak memiliki media independen sejak 2017. Kritik terhadap keluarga penguasa bisa dipenjara hingga lima tahun.
Sembilan jurnalis perempuan dipenjara di Azerbaijan. Negara ini peringkat 164 dalam Indeks Kebebasan Pers.
Israel memberlakukan sensor militer ketat. Pemerintah memboikot Haaretz dan melarang Al Jazeera beroperasi.
AS juga menghadapi penurunan kebebasan pers. Pengecualian Associated Press dari kelompok pers Gedung Putih memicu kekhawatiran.
Pertarungan untuk kebebasan pers semakin sengit. Jurnalis terus menghadapi risiko demi memperjuangkan demokrasi.

