News
Beranda » News » Kekerasan Warga dan Tembok Pemisah Ancam Warga Sinjil

Kekerasan Warga dan Tembok Pemisah Ancam Warga Sinjil

GELUMPAI.ID — Warga Sinjil, sebuah kota di Tepi Barat yang diduduki, hidup dalam ketakutan akibat meningkatnya kekerasan pemukim Israel.

Ayed Ghafri, warga setempat, tak lagi mengizinkan anak-anaknya bermain di halaman rumah.

Kota ini dikelilingi lima pemukiman Israel, menjadi sasaran rutin serangan seperti pembakaran dan pelemparan batu.

Belakangan, serangan semakin intens, memaksa beberapa keluarga mengungsi dan lainnya terkurung di rumah.

“Serangan terjadi setiap hari karena pemukiman dibangun tepat di samping rumah kami,” kata Ghafri kepada Middle East Eye.

“Kami tak bisa membiarkan anak-anak bermain di luar sendirian karena khawatir akan keselamatan mereka,” tambahnya.

Awal bulan lalu, sekelompok pemukim melempari rumah Ghafri dengan batu dan mengancam akan membunuhnya.

Pada 21 April, saat Ghafri dan warga lain mendekati pos baru pemukim, mereka diserang dengan kekerasan.

“Kami adalah kelompok aktivis dan relawan,” ujar Ghafri.

“Begitu tiba, pemukim menyerang kami, lalu tentara menembakkan tabung gas air mata, satu di antaranya mengenai kepala saya,” lanjutnya.

Ghafri mengalami luka bakar di wajah dan kesulitan bernapas.

Hari yang sama, tentara menembakkan gas air mata ke warga yang berusaha melindungi properti mereka dari kebakaran yang diduga dilakukan pemukim.

Wael Ghafri, sepupu Ayed, meninggal karena sesak napas akibat serangan tentara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari The Jerusalem Post, tentara Israel juga memblokir akses jalan ke lingkungan Muzayri’a, tempat Ghafri tinggal.

“Jika kami perlu membeli roti, kami harus berjalan tujuh kilometer ke toko terdekat,” keluh Ghafri.

Sejak Oktober 2023, tentara Israel menyita 70 dunam tanah warga Sinjil untuk keperluan militer.

Warga menuduh ini sebagai dalih untuk memperluas pemukiman.

Pada September 2024, Israel mulai membangun tembok besi sepanjang 1.500 meter di sekitar Sinjil.

Tembok ini memisahkan kota dari jalan raya utama dan mengisolasi 8.000 dunam lahan pertanian.

Moataz Tawafsha, wali kota Sinjil, menyebut tembok ini sebagai hukuman kolektif.

Laman: 1 2