Artikel Disusun Oleh:
Perawati
Rosmalinda
Siska afrianaCO Autor: Dr. Nurmalinda, S.Kar., M.Pd (nurmalinda@edu.uir.ac.id )
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, kesenian tradisional masyarakat Melayu di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, tetap menunjukkan eksistensinya. Salah satu bentuk warisan budaya yang hingga kini masih hidup dan lestari adalah Silat Tigo Bulan, sebuah seni bela diri yang sarat dengan nilai-nilai adat, spiritualitas, dan kebersamaan.
Silat Tigo Bulan bukan sekadar seni mempertahankan diri, tetapi juga merupakan simbol identitas budaya masyarakat Melayu pesisir Rokan Hilir. Kesenian ini biasa dipentaskan dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan, seperti perayaan Maulid Nabi, kenduri kampung, pesta pernikahan, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Makna Filosofis dalam Gerakan
Silat Tigo Bulan memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari aliran silat lain di Nusantara. Gerakan silat ini tidak hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, tetapi juga menekankan keindahan dan harmoni gerakan. Nama “Tigo Bulan” merujuk pada masa pelatihan tradisional selama tiga bulan yang dijalani oleh murid-muridnya, sebagai bentuk penempaan fisik, mental, dan spiritual.
“Silat Tigo Bulan mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru serta sesama. Ini bukan hanya ilmu bela diri, tetapi juga pendidikan karakter,” ujar Ustaz Harun, salah satu guru silat di Kecamatan Bangko.
Unsur Spiritual dan Budaya
Tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai Islam, Silat Tigo Bulan kerap diawali dengan doa-doa dan zikir. Bahkan, sebelum memulai latihan atau pertunjukan, para pendekar biasanya melakukan ritual membaca surah-surah pendek sebagai bentuk perlindungan dan kekuatan spiritual.
Di dalam masyarakat, pendekar Silat Tigo Bulan juga sering dihormati bukan hanya karena keahliannya, tetapi karena kebijaksanaannya dalam memelihara keharmonisan sosial. Hal ini menjadikan kesenian ini sebagai bagian penting dalam struktur sosial budaya masyarakat Melayu Rokan Hilir.
Tantangan dan Harapan
Meski masih dijaga oleh komunitas-komunitas lokal, eksistensi Silat Tigo Bulan kini menghadapi berbagai tantangan. Generasi muda mulai kurang tertarik pada kesenian tradisional dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial. Kurangnya dukungan dan dokumentasi dari pihak terkait juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian.

